KPK Tetapkan Bupati Bengkayang Tersangka Suap

KPK Tetapkan Bupati Bengkayang Tersangka Suap
Suryadman Gidot ( Foto: ANTARA )
Fana Suparman / YUD Rabu, 4 September 2019 | 17:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait pembagian proyek pekerjaan di lingkungan pemerintah Kabupaten Bengkayang tahun 2019.

Tidak hanya Suryadman, KPK juga menetapkan tersangka terhadap lima orang lainnya, yakni Kepala Dinas PUPR Pemkab Bengkayang Alexius serta empat orang swasta bernama Rodi, Yosef, Nelly Margaretha, Bun Si Fat dan Pandus. Penetapan tersangka terhadap tujuh orang tersebut dilakukan KPK melalui gelar perkara setelah memeriksa secara intensif para pihak yang ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Selasa (3/9/2019) kemarin.

"KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan dan menetapkan tujuh orang sebagai tersangka," kata Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Suryadman Gidot melalui Alexius diduga menerima suap sekitar Rp 340 juta dari Rodi, Yosef, Nelly Margaretha, Bun Si Fat dan Pandus yang merupakan rekanan Pemkab Bengkayang. Suap ini diberikan lantaran lima orang swasta itu mendapat proyek sejumlah pekerjaan dengan skema penunjukkan langsung di Dinas PUPR.

"Untuk satu paket pekerjaan penunjukan langsung dimintakan setoran sebesar Rp 20-25 juta, atau minimal sekitar 10% dari nilai maksimal pekerjaan penunjukan langsung yaitu Rp 200 juta," kata Febri.

Komitmen fee tersebut diminta ke para rekanan lantaran Suryadman meminta Alexius dan Kadis Pendidikan Pemkab Bengkayang Agustinus Yan untuk menyiapkan uang masing-masing Rp 300 juta untuk menyelesaikan permasalahan pribadinya. Permintaan itu disampaikan Suryadman saat memanggil Alexius dan Agustinus Yan ke ruangannya pada Jumat (30/8/2019) pagi.

"Menindaklanjuti hal tersebut, pada Minggu, 1 September 2019, AKS (Alexius) menghubungi beberapa rekanan untuk menawarkan proyek pekerjaan penunjukan langsung dengan syarat memenuhi setoran di awal. Hal ini dilakukan dikarenakan uang setoran tersebut diperlukan segera untuk memenuhi permintaan dari bupati," tutur Basaria.

Sehari berikutnya, Alexius menerima setoran tunai dari beberapa rekanan dengan nilai total Rp 340 juta. Secara rinci, Bun Si Fat menyetorkan sebesar Rp 120 juta; Pandus, Yosef dan Rodi menyetor Rp 160 juta dan Nelly Margaretha menyetor Rp 60 juta.

Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Suryadman dan Alexius yang ditetapkan sebagai tersangka penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara itu, lima pihak swasta yang menjadi tersangka pemberi suap dijerat dengan Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 5 Ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP dan Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.



Sumber: Suara Pembaruan