Densus Bekuk Tiga Calon Teroris Ali Kalora

Densus Bekuk Tiga Calon Teroris Ali Kalora
Tim Densus 88 Antiteror. ( Foto: Antara )
Farouk Arnaz / CAH Kamis, 5 September 2019 | 15:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ali Kalora sebagai pentolan kelompok militan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang beroperasi dan bergerilya di kawasan pegunungan di Sulawesi Tengah(Sulteng) masih punya pesona.

Densus 88/Antiteror menangkap tiga orang terduga teroris di Palu pada Selasa 3 September 2019. Mereka yang saat ini didalami penyidik Densus dan penyidik Polda Sulawesi Tengah ditangkap sesaat sebelum mereka bergabung dengan MIT di pedalaman hutan Poso.

“Pertama alias CA alias Enal. Ditangkap pukul 13.40 WITA Selasa kemarin di Jalan Trans Sulawesi, Sulteng. Kedua A bin U alias Angga ditangkap di Kecamatan Palu Selatan ketiga AS alias Putra Alias Siregar ditangkap pukul 23.00 WITA di Jalan Malaya,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri Kamis (5/9/2019).

Menurut Dedi ketiga terduga teroris ini sudah menyiapkan amaliyah. Setiap keluar rumah selalu mempersiapkan diri membawa parang dan golok. Mereka beberapa kali mengikuti pelatihan parang militer atau iddad antara lain latihan menembak menggunakan senjata angin dan latihan fisik lainnya.

“Barang bukti yang disita dari CA sepeda motor, kunci T yang diduga bisa digunakan untuk pencurian kendaran bermtor, uang Rp 1,8 juta, badik, parang, zebo, dan ada beberapa perlengkapan perorangan,” imbuhnya.

Dari A alias U arkam ada 34 barang bukti. Mulai buku jihad, buku merakit bom, perlengkapan pribadi, zebo loreng, jaket, senapan angin, peluru angin, busur panah sebanyak 17 buah, ketapel besi, peredam senapan angin, teleskop, parang, dan komputer.

Untuk AS alias Putra, ada 31 barang bukti mulai dari zebo, beberapa pipa yany diduga hendak dijadikan bom pipa, beberapa baterai, obeng, serbuk—yang masih diteliti apakah merupakan bagian untuk bom pipa—, rangkaian elektronik, parang, panah, dan paku yang dipotong dimasukan ke dalam botol.

Enal diketahui asal Kendari, A asal dari Sulsel, dan A dari Medan. Semuanya berasal dari luar Sulteng.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian pernah menyebut jika Ali adalah orang ketiga di MIT setelah Abu Wardah Asy Ayarqi alias Santoso dan Basri alias Bagong.

Santoso tewas pada 18 Juli 2016 silam di Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso dan Basri ditangkap bersama istrinya, Nurmi Usman alias Oma, pada 14 September 2016. Maka tak heran kini Ali pegang kendali dan diburu lagi.



Sumber: BeritaSatu.com