Kasus Mafia Migas, Bambang Irianto Diduga Terima Suap USD 2,9 Juta

Kasus Mafia Migas, Bambang Irianto Diduga Terima Suap USD 2,9 Juta
Laode M Syarif. ( Foto: Antara )
Aichi Halik / AHL Selasa, 10 September 2019 | 17:34 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bambang Irianto (BTO) sebagai tersangka terkait kasus dugaan suap perdagangan minyak mentah dan produk kilang di Pertamina Energy Service Pte Ltd (PES).

Bambang merupakan Managing Director PES periode 2009-2013 dan juga mantan Direktur Utama Pertamina Energy Trading (Petral).

KPK menyebut Bambang Irianto diduga menerima suap sebesar USD 2,9 juta atas bantuan yang diberikannya ke pihak Kernel Oil.

"Pada periode tahun 2010 sampai 2013, tersangka BTO (Bambang Irianto) melalui rekening perusahaan SIAM diduga telah menerima uang sekurang-kurangnya USD 2,9 juta atas bantuan yang diberikannya kepada pihak Kernel Oil terkait dengan kegiatan perdagangan produk kilang dan minyak mentah kepada PES/PT Pertamina (Persero) di Singapura dan pengiriman kargo," kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif dalam konferensi pers di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (10/9/2019).

Menurut Syarif, Bambang menerima suap tersebut secara bertahap melalui rekening bank di luar negeri.

"Tersangka BTO selaku vice president Market Invest membantu mengamankan jatah alokasi kargo Kernel Oil dalam tender pengadaan atau penjualan minyak mentah untuk produk kilang, dan sebagai imbalannya diduga Bambang Irianto menerima sejumlah uang yang diterima melalui rekening bank di luar negeri," ujar Syarif.

Syarif mengakui sangat sulit untuk mendapatkan informasi tentang rekening bank yang ada di luar negeri.

Bambang bersama sejumlah pejabat PES, menurut Syarif, berhak menentukan rekanan yang akan diundang mengikuti tender. Salah satu NOC yang sering diundang untuk mengikuti tender dan akhirnya menjadi pihak yang mengirimkan kargo untuk PES/PT Pertamina adalah Emirates National Oil Company (ENOC).

"Diduga ENOC merupakan 'perusahaan bendera' yang digunakan pihak perwakilan Kernel Oil. Tersangka BTO diduga mengarahkan untuk tetap mengundang NOC tersebut meskipun mengetahui bahwa NOC itu bukanlah pihak yang mengirim kargo ke PES/PT Pertamina (Persero)," kata Syarif.



Sumber: BeritaSatu TV