Capim Sigit Nilai Pimpinan dan Pegawai KPK Tidak Kompak

Capim Sigit Nilai Pimpinan dan Pegawai KPK Tidak Kompak
Calon Pimpinan KPK Sigit Danang Joyo saat uji kelayakan dan kepatutan calon pimpinan KPK di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (11/9/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Fana Suparman / JAS Rabu, 11 September 2019 | 19:59 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Calon Pimpinan (Capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Sigit Danang Joyo‎ menyoroti hubungan pimpinan lembaga antirasywah itu dengan para pegawainya. Berdasarkan pemberitaan di media massa, Sigit menilai adanya ketidakkompakan antara pimpinan dengan para pegawai KPK.

Hal ini diungkapkan Sigit saat menjalani uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) di Komisi III DPR, Rabu (11/9).

‎"Sehingga yang saya tangkap antara pegawai dengan pimpinan enggak sinkron‎," kata Sigit.

Menurut Sigit ketidakkompakan antara pimpinan dan pegawai menunjukkan adanya persoalan di internal KPK. Apalagi, ketidakkompakan itu ditunjukkan di media. Untuk itu, jika terpilih sebagai pimpinan, Sigit mengaku akan menata kembali pola hubungan dan komunikasi antara pimpinan dan pegawai KPK.

"Ketika enggak sinkron maka ada masalah. Makanya ini harus ditertibkan, dibenahi antara pimpinan dan pegawai," katanya.

Menurut Sigit, antara pimpinan dan pegawai KPK harus kompak dan seiya sekata. Misalnya apa yang diungkapkan ke publik oleh pimpinan KPK, seharusnya satu suara dengan pimpinan.

"Kalau kita sepakat bicara organisasi yang keluar ke media mestinya harus satu kata," ungkapnya.

Terkait pola hubungan dan komunikasi ini, Sigit pun menyoroti operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK. Menurutnya, KPK selama ini menjadikan OTT sebagai festival atau parade, seperti ada perempuan yang tertangkap dalam OTT yang sebenarnya tidak terkait dengan perkara.

"Saya tidak setuju kalau dijadikan festival. Saya tidak setuju ada perempuan kemudian diekpose. Padahal tidak berkaitan dengan kasus," katanya.

Sigit mengatakan, OTT seharusnya tidak perlu dijadikan panggung bagi pemberitaan di media. Menurutnya, festivalisasi OTT salah satu faktor yang membuat indeks persepsi korupsi (IPK) Indonesia stagnan dari tahun ke tahun.

"Karena banyaknya OTT ini berpengaruh terhadap persepsi, semakin banyak OTT maka akan drop," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan