KPAI: Naiknya Usia Perkawinan Jadi Kado untuk Anak Indonesia

KPAI: Naiknya Usia Perkawinan Jadi Kado untuk Anak Indonesia
Warga berpose sambil membawa poster "Stop Perkawinan Anak" di Surabaya, Jawa Timur, belum lama ini. ( Foto: ANTARA FOTO )
Dina Manafe / IDS Jumat, 13 September 2019 | 12:34 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Legislasi (Baleg) DPR telah menyetujui ditetapkannya batas minimal usia perkawinan bagi perempuan dan laki-laki menjadi 19 tahun. Keputusan ini disepakati dalam Rapat Panitia Kerja (Panja) Baleg DPR bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Kementerian Agama (Kemag), Kementerian Kesehatan (Kemkes), dan Kementerian Hukum dan HAM (Kemkumham) terkait penyempurnaan UU Perkawinan di Jakarta, Kamis (12/9).

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendukung sepenuhnya keputusan Baleg DPR tersebut. Menurut Ketua KPAI, Susanto, ini merupakan langkah maju bagi bangsa Indonesia dan kado terbaik bagi anak-anak Indonesia dari DPR periode 2014-2019 di akhir masa baktinya.

Secara norma hukum, negara mensyaratkan usia perkawinan melebih usia anak, sehingga diharapkan bisa mengurangi angka kematian ibu dan balita, menurunnya kasus stunting, dan meningkatkan kualitas keluarga Indonesia. Upaya negara untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dapat dicapai dengan baik dengan prasyarat perkawinan yang jauh lebih memadai.

KPAI juga mengapresiasi adanya ayat yang mengatur tentang mendengarkan para pihak yang mengajukan dispensasi nikah. Ini sangat penting untuk memastikan bahwa para pihak dimintakan dispensasi dalam keadaan mendesak, bukan karena hal-hal yang disalahgunakan.

“Semoga capaian norma hukum usia perkawinan ini diikuti dengan upaya edukasi pendewasaan usia perkawinan. Edukasi dapat dilakukan oleh dan untuk semua elemen masyarakat dan bergandengan tangan dengan pemerintah. Upaya masif ini dilakukan di semua tempat baik di sekolah, masyarakat, kelompok agama, dan lintas sektor lain,” kata Susanto.



Sumber: Suara Pembaruan