Saat Pegawai dan Aktivis Antikorupsi "Memakamkan" KPK

Saat Pegawai dan Aktivis Antikorupsi
Sejumlah aktivis menggelar aksi pemakaman KPK di gedung KPK, Jakarta, Selasa, 17 September 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Fana Suparman )
Fana Suparman / AO Rabu, 18 September 2019 | 06:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Aktivitas di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa (17/9/2019), berjalan seperti biasa. Tim penyidik lembaga antikorupsi tetap memeriksa para saksi terkait sejumlah perkara korupsi yang tengah ditangani. Bahkan, kemarin, tim penyidik menggeledah tiga kantor dinas Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terkait kasus dugaan suap dan gratifikasi yang menjerat Gubernur Kepri Nurdin Basirun.

Namun, setelah aktivitas perkantoran berakhir, sekitar pukul 19.00 WIB, suasana di sekitar gedung KPK berubah suram. Lampu utama yang menerangi pelataran dipadamkan. Tak berselang lama, satu persatu pegawai KPK melangkah keluar lobi dengan wajah ditutup masker sambil memegang bendera kuning.

Lagu "Darah Juang" karya John Tobing, "Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti" ciptaan Banda Neira, dan lagu kebangsaan "Indonesia Raya" mengiringi langkah gontai para pegawai yang kemudian berkumpul bersama ratusan orang lain, termasuk para aktivis antikorupsi, di pelataran gedung KPK.

Mereka menghadiri acara "pemakaman" KPK, yang dinilai telah mati saat DPR mengesahkan UU KPK yang baru.

"Malam ini, kita semua berduka. Kita sudah mendengar bahwa gedung di belakang ini bukan lagi akan menjadi benteng terakhr pemberantasan korupsi," kata Ketua YLBHI, Asfinawati, membuka prosesi pemakaman KPK.

Asfinawati mengatakan, sejak UU Nomor 30 tahun 2002 disahkan, harapan masyarakat akan Indonesia yang bebas korupsi menemukan jawabannya. Dengan UU tersebut, lembaga antikorupsi menangkap para pejabat korup, mulai dari hakim Mahkamah Konstitusi hingga Ketua DPR dan DPD. Namun, harapan akan Indonesia yang bebas korupsi itu seakan sirna dengan disahkannya UU KPK yang baru.

"Adalah salah mengatakan kita membela KPK, apalagi membela para pekerja di KPK. Tentu saja kita mendukung mereka, tetapi sesunghunya yang kita bela bukan lembaga, orang, yang kita bela adalah nilai. Yang kita bela adalah pemberantasan korupsi. Dari itu semua, yang kita bela adalah bangsa Indoneaia, negara Indonesia yang dibentuk pada 1945 untuk menyejahterakan rakyat Indonesia," ujarnya.

Pentolan grup musik Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud kemudian memetikan gitarnya dengan musikalisasi puisi karya Widji Thukul berjudul "Bunga dan Tembok". Petikan gitar dan suara Cholil mengiringi nisan KPK yang dibawa sejumlah orang. Tak hanya nisan, poster-poster bertuliskan 'KPK sudah mati' pun dibentangkan.

"Mari, dengan suasana hening kita hanya berdoa, karena hanya doa yang bisa mengubah sesuatu. Ketika usaha kita terasa sia-sia, ketika kita tidak menemukan jalan keluar, yakinlah Tuhan bersama bangsa ini. Tuhan tidak akan membiarkan negeri ini akan hancur karena korupsi," kata seorang pegawai.

Suasana pun semakin syahdu. Para peserta aksi menyalakan lilin. Seluruh lampu di pelararan gedung KPK dipadamkan. Sebagian dari peserta aksi menembakkan sinar laser ke arah logo KPK yang berada di sisi kiri gedung yang diiringi raungan suara sirene.

Tembakan laser ini sebagai simbol pemberantasan korupsi menjadi target koruptor kelas kakap. "Jika ada utang piutang pemberantasan korupsi setelah RUU KPK disahkan, silakan menghubungi keluarga kami yang akan diwakili oleh Bapak Jokowi," teriak seorang peserta aksi.

Para peserta aksi tak mampu menahan tangis saat seorang pegawai KPK membacakan puisi "Duka Ibu Peristiwi". Beberapa di antaranya bahkan menangis tersedu. Prosesi pemakaman KPK semakin pilu saat para peserta menabur bunga di "nisan" KPK sambil menyanyikan bersama lagu "Gugur Bunga".

Namun, di tengah para peserta aksi sedang menyenandungkan bersama "Gugur Bunga", pengeras suara tiba-tiba mati. Suasana haru pun berubah tegang lantaran seorang anggota kepolisian yang mengawal aksi meminta petugas pengatur suara menghentikan pengeras suara. Tindakan aparat kepolisian tersebut menyulut emosi para peserta aksi. Adu mulut antara pihak kepolisian dan peserta aksi tak terelakkan hingga mengalihkan perhatian peserta aksi.

"Tugasmu mengayomi, tugasmu mengayomi. Pak polisi, pak polisi, jangan ganggu aksi kami," teriak massa sambil bernyanyi.

Aparat kepolisian yang dipimpin Kapolsek Setiabudi, AKBP Tumpak Simangunsong kemudian meninggalkan lokasi yang diikuti oleh sejumlah anggota kepolisian lainnya. Suasana tegang pun berangsung mereda.

Saat dikonfirmasi, AKBP Tumpak mengutarakan maksud permintaannya agar mematikan pengeras suara aksi "Pemakaman KPK" itu. Tumpak mengatakan, permintaan itu disampaikan untuk mencegah terjadinya bentrokan dengan sekelompok orang yang juga menggelar aksi di luar gedung KPK yang mendukung pimpinan KPK jilid V terpilih.

"Yang massa di sini kan harus diam, nah, masa di sana (luar gedung) KPK biar diam, iya. Biar tidak bentrok," kata Tumpak.