PSI: Penjarakan Pelaku Kebakaran Hutan

PSI: Penjarakan Pelaku Kebakaran Hutan
Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bidang Lingkungan Hidup, Mikhail Gorbachev Dom. (Foto: Istimewa)
Yustinus Paat / AO Rabu, 18 September 2019 | 14:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mendesak agar hukum ditegakkan sekuat-kuatnya dan seadil-adilnya kepada para pihak yang terlibat dalam kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan. PSI meminta penegakan hukum tidak hanya kepada masyarakat kecil tetapi juga kepada koorporasi yang terbukti bersalah.

“Penegakan hukum ini bukan hanya kepada masyarakat kecil, tetapi juga kepada korporasi bila terbukti bersalah. Penyebab terjadinya kebakaran, pendukung pendanaannya, dan penadahnya harus ditangkap dan dihukum berat. Bukan cuma dengan didenda, tetapi mereka harus dipenjara,” kata Juru Bicara PSI bidang Lingkungan Hidup, Mikhail Gorbachev Dom kepada Beritasatu.com di Jakarta, Rabu (18/9/2019).

Pria yang akran disapa Gorba mengatakan, eksekusi putusan juga harus benar-benar dilaksanakan. Denda yang sudah dijatuhkan oleh pengadilan kepada yang bersalah dalam kasus-kasus kebakaran di masa lalu harus dieksekusi sesegera mungkin.

“Eksekusi putusan denda ini penting untuk memberikan sumber daya tambahan kepada pemerintah dalam merestorasi wilayah terbakar dan mencegah kebakaran sebelum terjadi,” kata Gorba. Langkah-langkah tersebut selayaknya dilakukan pararel dengan tindakan menyelamatkan masyarakat yang terdampak.

“Seperti sudah kami sampaikan, segera evakuasi masyarakat dari tempat-tempat di mana asap tebal sudah berada pada level berbahaya. Pindahkan mereka ke tempat-tempat lain yang lebih aman,” ujarnya.

Pemerintah juga diminta untuk memastikan pasokan alat-alat kesehatan, seperti masker dan lain-lain, terjamin pengadaannya sampai ke pelosok untuk melindungi masyarakat dari bahaya kabut asap. Selain itu, perlu juga untuk segera menyediakan tabung-tabung oksigen dengan jumlah yang cukup.

Berdasar data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Senin (16/92019) pukul 16.00 WIB, titik panas ditemukan di Riau sebanyak 58 lokasi, Jambi (62), Sumatera Selatan (115), Kalimantan Barat (384), Kalimantan Tengah (513) dan Kalimantan Selatan (178).

Korban-korban pun berjatuhan. Seorang bayi di Palembang dikabarkan meninggal dunia karena menderita infeksi saluran pernapasan akut. Lalu, seorang kakek di Riau ditemukan tewas terbakar di perkebunannya yang dilalap api.



Sumber: Suara Pembaruan