PSI Kritisi Pasal Penodaan Agama di Revisi KUHP

PSI Kritisi Pasal Penodaan Agama di Revisi KUHP
Juru Bicara PSI untuk Bidang Hukum dan Penyandang Difabel Surya Tjandra ( Foto: istimewa )
Yustinus Paat / AO Rabu, 18 September 2019 | 15:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyoal pasal penodaan agama dalam Rancangan Undang-Undan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RUU KUHP). PSI menilai pasal penodaan agama rawan dipolitisasi.

“Pasal 304 RUU KUHP itu mengatur tentang tindak pidana penodaan agama. Pasal ini masih sangat multitafsir dan karenanya rawan politisasi,” kata Juru Bicara PSI, Surya Tjandra kepada Beritasatu.com di Jakarta, Rabu (18/9/2019).

Pasal 304 RUU KUHP menyebutkan, setiap orang di muka umum yang menyatakan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan atau penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak Kategori V.

Menurut Surya, pasal tersebut tidak memberikan kejelasan tolak ukur atau elemen-elemen yang mesti dipenuhi dalam melakukan penilaian tentang apakah suatu perbuatan bersifat permusuhan atau penodaan agama.

“Jika penilaian dapat dilakukan hanya didasarkan pada perasaan beragama orang per orang, jelas ini akan melahirkan tafsir subjektif yang melukai asas keadilan dan kepastian hukum,” kata doktor ilmu hukum dari Universitas Leiden, Belanda, itu.

Surya menegaskan, tidak boleh ada warga negara yang dipidana hanya karena tafsir subjektif yang dipaksakan segelintir orang atau oleh mayoritas terhadap minoritas. Jika para legislator tidak mampu menghadirkan kejelasan tersebut, tutur Surya, pasal ini selayaknya dianulir sebelum memakan korban-korban tak bersalah.

“Pasal tersebut harus mengatur secara jelas unsur-unsur pidana dalam konteks ini sehingga yang dapat dipidana dalam hal ini seharusnya seseorang yang memang dengan sengaja melakukan penghasutan atau provokasi dengan niat untuk memusuhi agama lain atau incitement to hatred,” kata Surya.



Sumber: Suara Pembaruan