Datangkan Pembuat Bom Ikan, Ini Peran Oknum Dosen IPB

Datangkan Pembuat Bom Ikan, Ini Peran Oknum Dosen IPB
Argo Yuwono. (Foto: Antara)
Bayu Marhaenjati / YUD Kamis, 3 Oktober 2019 | 17:02 WIB

Jakarta-Penyidik Polda Metro Jaya, terus menyelidiki peran oknum dosen IPB berinisial AB dan kawan-kawan, terkait kasus dugaan akan membuat kerusuhan dengan memanfaatkan kegiatan "Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI", di Jakarta.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, tersangka AB berperan memberikan dana untuk mendatangkan pembuat bom ikan.

"Jadi ada yang kasih dana seperti tersangka AB itu memberikan dana untuk mendatangkan ahli pembuat bom ikan yang di dalamnya ada pakunya. Dari Papua dan dari Ambon, ke Jakarta dibiayai tiketnya. Dana yang diberikan Rp 8 juta," ujar Argo, di Mapolda Metro Jaya, Kamis (3/10/2019).

Dikatakan Argo, barang bukti yang disita bukan bom molotov, melainkan bom ikan. "Bukan bom molotov ya. Itu bom ikan yang di dalamnya ada pakunya," ungkapnya.

Argo menyampaikan, penyidik saat ini sedang mendalami peran dari tersangka lainnya. Termasuk, melakukan pemberkasan kasus dan selanjutnya dilimpahkan ke kejaksaan.

"Sudah kita lakukan penahanan dan akan segera kita sidik, kita selesaikan, kita kirim ke kejaksaan. Penyidik sudah mendapatkan adanya kegiatan didahului pertemuan dulu, ada beberapa orang melakukan pertemuan. Nanti penyidik akan memeriksa dari pada beberapa orang yang bertemu, agendanya apa. Nanti akan kita tanya semuanya satu-persatu peran daripada para tersangka yang sudah dilakukan penahanan ini. Apa perannya, misalnya ada yang perannya menyuruh dan mendanai nanti akan kita lihat satu per satu," kata Argo.

Menyoal AB akan mengajukan permohonan penangguhan penahanan, Argo menuturkan, permohonan penangguhan penahanan itu merupakan hak dari para tersangka. Namun, penahanan merupakan subjektivitas dan wewenang penyidik.

"Itu hak daripada tersangka untuk ajukan penanguhan. Apakah dikabulkan atau tidak, itu hak juga daripada penyidik. Apakah sudah selesai pemeriksaannya, apakah masih dibutuhkan keteranganya dan sebagainya. Semua jadi subjektivitas dan wewenng penyidik," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com