Kasus Proyek BHS, KPK Periksa Petinggi PT Angkasa Pura II

Kasus Proyek BHS, KPK Periksa Petinggi PT Angkasa Pura II
Ilustrasi ( Foto: BSMH )
Fana Suparman / WBP Jumat, 4 Oktober 2019 | 10:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan memeriksa Vice President of Corporate Financial Control PT Angkasa Pura II (Persero), Mulyadi, Jumat (4/10/2019). Mulyadi bakal diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap proyek pengadaan Baggage Handling System (BHS) antar dua perusahaan BUMN yakni PT Angkasa Pura II dan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI). Pemeriksaan terhadap Mulyadi dilakukan penyidik untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka Dirut PT INTI, Darman Mappangara.

"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka DMP (Darman Mappangara)," kata Jubir KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi.

Tak hanya Mulyadi, dalam mengusut kasus ini tim penyidik KPK juga menjadwalkan memeriksa Vice President of Operation and Business Development PT Angkasa Pura Propertindo, Pandu Mayor‎ Hermawan. Seperti halnya Mulyadi, Pandu Mayor Hermawan juga akan diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka Darman.

Belum diketahui materi yang akan didalami penyidik dalam pemeriksaan terhadap Mulyadi dan Pandu. Diduga, pemeriksaan terhadap keduanya dilakukan penyidik untuk mendalami konstruksi perkara ‎serta aliran suap terkait proyek antar BUMN ini.
Diketahui, KPK menetapkan Darman Mappangara sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek BHS di PT Angkasa Pura Propertindo, anak usaha PT Angkasa Pura II (PT AP II). Penetapan tersangka terhadap Darman ini merupakan pengembangan dari kasus yang sama yang telah menjerat Direktur Keuangan PT AP II Andra Y. Agussalam dan staf PT INTI Taswin Nur.

Darman bersama-sama Taswin diduga menyuap Andra untuk 'mengawal' agar proyek BHS dikerjakan oleh PT. INTI. Pada 2019, PT INTI mengerjakan sejumlah proyek di PT Angkasa Pura II (Persero), seperti proyek Visual Docking Guidance System (VGDS) dengan nilai proyek Rp 106,48 miliar, proyek Bird Strike senilai Rp 22,85 miliar serta proyek pengembangan bandara senilai Rp 86,44 miliar. Tak hanya itu, Selain itu, PT INTI memiliki daftar prospek proyek tambahan di PT Angkasa Pura II dan PT Angkasa Pura Propertindo, yakni proyek X-Ray 6 bandara senilai Rp 100 miliar Baggage Handling System di enam bandara senilai Rp125 miliar dan proyek VDGS senilai Rp75 Milyar serta proyek radar burung senilai Rp 60 miliar. PT INTI (Persero) diduga mendapatkan sejumlah proyek berkat bantuan Andra.



Sumber: Suara Pembaruan