Eks Dirut PLN Sofyan Basir Dituntut 5 Tahun Penjara

Eks Dirut PLN Sofyan Basir Dituntut 5 Tahun Penjara
Sofyan Basir. (Foto: Antara)
Fana Suparman / WBP Senin, 7 Oktober 2019 | 18:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Jaksa Penuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan hukuman 5 tahun pidana penjara dan denda Rp 200 juta subsidair 3 bulan kurungan terhadap mantan Direktur Utama (Dirut) PT PLN, Sofyan Basir. Jaksa meyakini Sofyan Basir terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah telah memberikan kesempatan, sarana dan keterangan terjadinya tindak pidana suap terkait proyek pembangunan PLTU Mulut Tambang Riau-1. Suap tersebut diberikan pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited Johannes B. Kotjo kepada mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni M Saragih, dan mantan Sekjen Partai Golkar Idrus Marham.

"Menuntut supaya majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini menyatakan terdakwa Sofyan Basir terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana dalam dakwaan pertama melanggar Pasal 12 huruf a Juncto Pasal 15 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 56 ke-2 KUHP. Mentuntut menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 5 tahun dan pidana denda sejumlah Rp200 juta subsider 3 bulan kurungan," kata Jaksa KPK, Ronald Worotikan saat membacakan surat tuntutan Sofyan Basir di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (7/10/2019).

Bos-bos BUMN Terciduk KPK, Sri Mulyani Sebut Mereka Pengkhianat

Dalam menjatuhkan tuntutan terhadap Sofyan, Jaksa mempertimbangkan sejumlah hal. Untuk hal yang memberatkan, perbuatan Sofyan dinilai jaksa tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas tindak pidana korupsi. Sementara untuk hal yang meringankan, jaksa menilai Sofyan Basir bersikap sopan selama pemeriksaan di persidangan dan belum pernah dihukum. Selain itu, Sofyan Basir juga dinilai tidak ikut menikmati hasil tindak pidana suap yang telah dibantunya.

KPK Bantarkan Penahanan Idrus Marham di RSPAD

Diberitakan, jaksa KPK mendakwa Sofyan Basir telah memberikan kesempatan, sarana dan kesempatan terjadi tindak pidana suap terkait proyek pembangunan PLTU Mulut Tambang Riau-1. Suap tersebut diberikan pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited Johannes B. Kotjo kepada mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni M Saragih, dan mantan Sekjen Partai Golkar Idrus Marham.

Johannes Kotjo menyuap Eni dan Idrus sekitar Rp 4,75 miliar agar dapat menggarap proyek senilai US$ 900 juta tersebut. Rencananya proyek PLTU Riau-1 digarap konsorsium yang terdiri dari anak usaha PLN, PT Pembangkit Jawa Bali Investasi (PJBI), Blackgold Natural, dan China Huadian Engineering Company yang dibawa oleh Johannes Kotjo. Sementara, Sofyan, diduga turut memuluskan praktik suap tersebut karena proyek PLTU Riau-1 berada di PLN. Sofyan disebutkan memberi kesempatan atau memfasilitasi dengan turut menghadiri pertemuan-pertemuan dengan Eni, Kotjo dan Idrus Marham untuk muluskan proyek tersebut.



Sumber: Suara Pembaruan