Buzzer Dapat Dipidana Dengan Kondisi Tertentu

Buzzer Dapat Dipidana Dengan Kondisi Tertentu
Ilustrasi media sosial. ( Foto: Istimewa )
Farouk Arnaz / YUD Selasa, 8 Oktober 2019 | 18:27 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mabes Polri mengatakan buzzer tidak bisa dipidana sepanjang itu dilakukan secara positif. Namun bila

yang “didengungkan” adalah hoax dan kebencian tentu itu melanggar hukum.

Buzzer itu sebuah frase. Buzzer itu lebah yang mendengung. Ini adalah upaya mengamplifikasi dan menyebarluaskan sebuah konten dan narasi. Maka buzzer bisa digunakan secara positif atau negatif,” kata Kabag Penum Polri Kombes Asep Adi Saputra di Mabes Polri, Selasa (8/10/2019).

Sepanjang positif tentu itu tidak melanggar hukum dan tidak jadi persoalan. Tapi buzzer yang menyebarkan hoax dan ujaran kebencian itu melanggar hukum dan akan dilakukan penegakan hukum.

Sebelumnya Karo Multimedia Divhumas Polri Brigjen Budi Setiawan mengatakan UU ITE sudah mengatur hal apa saja yang bisa dijerat dengan pidana.

“Pasal 27 UU ITE misalnya mengatur tentang kesusilaan, perjudian, penghinaan, dan pemerasan. Ancaman maksimal 6 tahun penjara,” kata Budi saat dihubungi, Selasa (8/10/19).

Juga Pasal 28 UU ITE yang melarang menyebarkan hoax dan berita bohong. Pasal 29 UU ITE tentang pengancaman dan Pasal 30 tentang akses ilegal.

“Pasal 30 itu juga mengatur pencurian data elektronik dan peretasan data,” imbuhnya dan menambahkan meski belum diatur buzzer memang berpotensi menimbukan pro dan kontra.

Buzzer politik menjadi isu khusus saat Ninoy Karundeng diculik saat dia berada di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada 30 September 2019 lalu.

Saat itu dia mencoba merekam massa demonstran yang terlibat bentrok dengan aparat keamanan. Ninoy bergegas mengeluarkan handphonenya dan langsung memotret keadaan sekitar saat korban yang terkena gas air mata digotong.

Namun malang. Ninoy pun dibekuk, digebuk, dan diintimidasi kelompok massa di sana. Si pria menanyakan tujuan Ninoy datang ke tempat tersebut. Si pria juga menuding bahwa Ninoy adalah buzzer.

“Kamu meliput demo di DPR, terus di dalam laptop kamu itu ada unsur kebencian yang diarahkan ke tokoh-tokoh yang sangat dekat dengan kita. Tujuannya apa?” bentak si pria tersebut.

Belakangan Polda Metro Jaya menangkap 13 orang terkait masalah Ninoy yang memang dikenal sebagai relawan Jokowi itu. Salah satunya adalah Sekretaris Jenderal Persaudaraan Alumni 212. Bernard Abdul Jabbar.



Sumber: BeritaSatu.com