Tangkal Radikalisme

Peran Ulama sebagai Guru dan Teladan Perlu Ditingkatkan

Peran Ulama sebagai Guru dan Teladan Perlu Ditingkatkan
Tigor Mulo Horas Sinaga ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Rully Satriadi / RSAT Senin, 14 Oktober 2019 | 09:33 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Terkait hasil penyidikan polisi yang menyebutkan pelaku penusukan terhadap Menko Polhukam Jenderal Wiranto diduga terpapar radikalisme, pengamat intelijen Generasi Optimis (GO) Indonesia, Tigor Mulo Horas Sinaga mengatakan perlunya makin ditingkatkan peran ulama sebagai guru dan teladan.

Menurut Horas, seperti yang disampaikan Wapres terpilih KH Ma'ruf Amin dalam Haul Akbar di Ponpes Al Ishlahuddiny Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, 11 Oktober 2019, setidaknya ada tiga tanggung jawab ulama. Yakni dalam bidang agama, keumatan, dan kebangsaan atau kenegaraan

Tanggung jawab pertama dalam bidang keagamaan, agar para ulama selalu menjaga agama dari salah penafsiran yang menyimpang. Ini termasuk meluruskan kesesatan kaum radikal dan intoleran. Kedua, tanggung jawab keumatan. Yaitu menjaga umat dari akidah-akidah yang salah. Menjaga umat agar kuat secara pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.

Ketiga, tanggung jawab kebangsaan dan kenegaraan. Ini tanggungjawab yang penting dalam konteks hidup berbangsa, yaitu menjaga negara Indonesia dari ideologi-ideologi lain di luar konsensus nasional.

Horas sangat setuju apa yang disampaikan KH Ma'ruf Amin tersebut. Baginya Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI adalah harga mati yang tak bisa ditawar, dan tidak akan ada yang bisa menggantikannya.

"KH Ma'ruf Amin dengan tegas mengatakan bahwa khilafah bukan ditolak tapi memang tertolak sejak dari awal karena tidak sesuai dengan kesepakatan untuk membangun bangsa yang besar dan majemuk oleh para founding fathers negara kita," tegas Horas di Jakarta, Minggu (13/10/2019).

Horas mengimbau semua pemeluk agama untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

Menurutnya Indonesia adalah negara plural. Tuhan yang menjadikannya demikian. Jadi kita harus saling menghargai. “Biarlah kita menjalankan ibadah masing-masing, tanpa menyinggung agama-agama lain, dan marilah kita saling mengasihi sesama anak-anak Ibu Pertiwi Nusantara", ujar Horas.

Horas menambahkan serius beragama itu bagus. “Tapi jangan menjadikan negara Indonesia sebagai negara agama yang kita anut," pungkasnya.



Sumber: Suara Pembaruan