Ditahan KPK, Dirut PT INTI: Perjuangan Menghidupkan Perusahaan

Ditahan KPK, Dirut PT INTI: Perjuangan Menghidupkan Perusahaan
Direktur PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) Darman Mappangara. ( Foto: Antara Foto / Aprillio Akbar )
Fana Suparman / YUD Jumat, 18 Oktober 2019 | 21:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Direktur PT INTI, Darman Mappangara usai diperiksa sebagai tersangka dugaan suap pengadaan pekerjaan Baggage Handling System (BHS) pada PT. Angkasa Pura Propertindo yang digarap PT INTI, Jumat (18/10/2019).

Usai diperiksa, Darman berjanji akan koperatif menjalani proses hukum kasus ini. Dikatakan, persoalan hukum yang dihadapinya saat ini merupakan bagian dari perjuangannya menghidupkan PT INTI yang mengalami kesulitan ekonomi. Untuk itu, Darman meyakini, kebenaran dari perkara ini bakal terungkap dalam proses persidangan nanti.

"Dalam usaha saya berjuang untuk menghidupkan PT INTI, ini harus saya lewati. Semoga Allah beri kekuatan dan kebenaran akan terungkap di persidangan," kata Darman usai diperiksa penyidik di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (18/10/2019).

Saiful Huda, pengacara Darman mengatakan, dalam pemeriksaan hari ini, tim penyidik mengajukan sekitar 35 pertanyaan. Saiful memastikan kliennya koperatif menjalani proses hukum perkara ini.

"Sangat koperatif. Beliau sangat meyakini apa yang dilakukannya untuk memperjuangkan PT INTI," katanya.

Dijelaskan, uang yang diberikan kliennya kepada Direktur Keuangan PT Angkasa Pura II, Andra Y. Agussalam tidak terkait dengan proyek seperti yang disangkakan KPK. Uang tersebut, katanya merupakan utang piutang antara Andra dan Darman. Hal tersebut telah disampaikan Darman kepada penyidik KPK yang memeriksanya hari ini.

"Klien saya itu diduga memberikan sesuatu kepada Direktur Keuangan Angkasa Pura II dalam proyek BHS. Namun, di dalam pemeriksaan tadi, klien kami itu tidak ada kaitannya dengan uang proyek. Itu pinjaman pribadi antara Direktur Keuangan dan pak Darman," katanya.

Saiful Huda menjelaskan, utang piutang perlu dilakukan karena kondisi keuangan PT INTI sedang terpuruk. Bahkan, PT INTI sudah tidak mampu membayar gaji pegawai.

"Masyarakat umum mungkin sudah tahu kondisi keuangan PT INTI itu sangat sulit. Untuk bayar gaji pun sudah sulit. Sudah sering juga kan kita lihat di media demo-demo pegawai. Yang dimaksud pak Darman itu demi itu karena untuk meminjam ke bank sudah tidak mungkin," katanya.

Darman ditahan KPK di Rutan Mapolres Jakartq Pusat untuk 20 hari ke depan terhitung sejak 18 Oktober 2019. Dengan demikian, Darman setidaknya bakal mendekam di sel tahanan hingga 6 November 2019.

Diketahui, KPK menetapkan Darman Mappangara sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek BHS di PT Angkasa Pura Propertindo, anak usaha PT Angkasa Pura II (PT AP II). Penetapan tersangka terhadap Darman ini merupakan pengembangan dari kasus yang sama yang telah menjerat Direktur Keuangan PT AP II Andra Y. Agussalam dan staf PT INTI Taswin Nur. Darman bersama-sama Taswin diduga menyuap Andra untuk 'mengawal' agar proyek BHS dikerjakan oleh PT. INTI.



Sumber: Suara Pembaruan