Bowo Sidik Ungkap Rp 600 Juta dari Bupati Minahasa Selatan

Bowo Sidik Ungkap Rp 600 Juta dari Bupati Minahasa Selatan
Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, 28 Maret 2019. ( Foto: ANTARA )
Fana Suparman / YUD Rabu, 23 Oktober 2019 | 20:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Anggota DPR dari Fraksi Golkar, Bowo Sidik Pangarso mengungkapkan pernah menerima uang dengan total Rp 600 juta dari Bupati Minahasa Selatan (Minsel) Christiany Eugenia Tetty Paruntu. Uang tersebut diberikan Tetty secara bertahap terkait pengurusan pembangunan revitalisasi pasar dan kepengurusan Partai Golkar. Hal ini diungkapkan Bowo saat menjalani sidang pemeriksaan terdakwa perkara dugaan suap dan gratifikasi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (23/10/2019).

"Saya terima, saya buka di mobil, nilainya Rp 300 juta. Kedua juga sama Rp 300 juta. Waktu itu ada pergantian Ketua Umum yang Pak Setya Novanto pas kena masalah (hukum), ketua umumnya kan diganti sama Pak Airlangga Hartarto," kata Bowo Sidik.

Terkait proyek revitalisasi pasar, Bowo menuturkan, Tetty Paruntu sempat ikut rapat bersama pimpinan Golkar. Saat itu, Tetty meminta Bowo membantu revitalisasi pasar di Minahasa Selatan.

"Salah satunya Bu Tetty minta ke saya 'Tolong dibantu pak untuk kepentingan pasar'. Saya bilang ya langsung saja ke Kemdag, karena itu ada aturan dan ada juklas-juknisnya yang harus dipenuhi kabupaten tersebut," kata Bowo.

Bowo mengatakan, Tetty memerintahkan Dipa Malik yang sesama kader Golkar untuk mengurus ke Kementerian Perdagangan. Bowo pun mengaku beberapa kali bertemu Tetty dan Dipa Malik di Plaza Senayan dan Cilandak Town Square.

"Yang memberikan amplop (uang) itu Dipa Malik kepada saya. Pertama di Plaza Senayan, lalu kedua itu di Citos ya. Langsung serahkan ketemu berdua, cuma dibilang, 'Ini titipan dari Bu Tetty,'" kata Bowo menirukan ucapan Dipa Malik.

Tidak hanya soal revitalisasi pasar, Bowo menambahkan, Tetty juga meminta bantuannya agar tetap menjabat Ketua DPD Golkar. Tapi Bowo tidak menyebutkan daerahnya.

"Bersamaan dengan itu pun, saya diminta bantuan (oleh) Bu Tetty untuk mengomunikasikan dengan Pak Setya Novanto agar dia bisa menjadi Ketua DPD Golkar. Nah, kemudian apa pun kita bareng-bareng komunikasikan dia juga bisa menjadi Ketua DPD Golkar," kata Bowo.

Diketahui, Bowo Sidik didakwa menerima suap sebesar Rp 311 juta dan USD 163.733. Suap yang diterima Bowo melalui orang kepercayaannya, Indung Andriani itu berasal dari Asty Winasti dan Direktur PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Taufik Agustono. Suap ini diberikan lantaran Bowo membantu PT HTK mendapatkan kerja sama pekerjaan pengangkutan atau sewa kapal dengan PT Pilog.

Selain dari PT HTK, Bowo juga didakwa menerima suap sebesar Rp300 juta secara bertahap dari Direktur Utama (Dirut) PT Ardila Insan Sejahtera, Lamidi Jimat. Suap ini merupakan kompensasi untuk Bowo Sidik Pangarso karena telah membantu PT Ardila Insan Sejahtera (AIS) menagih utang PT Jakarta Lloyd sebesar Rp2 miliar. Tak hanya itu, pemberian uang tersebut juga diduga bertujuan memuluskan PT A‎IS mendapatkan pekerjaan penyediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Marine Fuel Olil (MFO) untuk kapal-kapal PT Djakarta Lloyd.

Tak hanya itu, Bowo juga didakwa menerima gratifikasi senilai SGD 700 ribu atau senilai Rp 7.193.550.000 (kurs Rp 10.276) dan Rp 600 juta. Bowo menerima gratifikasi itu terkait kewenangannya sebagai anggota Komisi VI dan anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR. Salah satu gratifikasi yang diterima Bowo yakni terkait revitalisasi Pasar di Minahasa Selatan.



Sumber: Suara Pembaruan