Penyumbang Dana Kelompok Berencana Rusuh Ditangkap

Penyumbang Dana Kelompok Berencana Rusuh Ditangkap
Ilustrasi kerusuhan. ( Foto: Antara )
Bayu Marhaenjati / YUD Kamis, 24 Oktober 2019 | 16:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penyidik Direkrorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, terus mengembangkan pengungkapan kasus kelompok atau grup aplikasi percakapan berinisial F yang merencanakan kerusuhan untuk menggagalkan pelantikan presiden dan wakil presiden di Gedung DPR/MPR RI, menggunakan ketapel bola berbahan peledak. Dua orang penyumbang dana pembuatan ketapel atas nama Suci Rahayu alias SR dan Abu Yaksa alias RA ditangkap.

"Dua tersangka ini diamankan karena ada rangkaian penyandang dana. Tersangka pertama SR, perannya adalah ikut bergabung dalam grup WA (WhatsApp) dengan inisial F, pada 1 Oktober 2019. Kemudian, tersangka SR ini ikut memberikan uang atau sebagai penyandang dana dengan jumlah Rp 700.000, dua tahap. Pertama Rp 200.000, kedua Rp 500.000," ujar Kasubdit Penmas Bid Humas Polda Metro Jaya AKBP I Gede Nyeneng, Kamis (24/10/2019).

Dikatakan I Gede, tersangka kedua berinisial RA ditangkap karena juga bergabung di dalam WA grup berinisial F, dan turut memberikan dana sebesar Rp 75.000. Uang itu diberikan kepada tersangka SH yang sudah ditangkap sebelumnya.

"Semua dana yang diberikan dari SR dan RA itu digunakan untuk membeli perlengkapan terkait pembuatan bom ketapel baik membeli karet, ketapel kayu dan sebagainya," ungkapnya.

I Gede menyampaikan, tersangka SR berprofesi sebagai ibu rumah tangga, sedangkan RA pengemudi angkutan online.

"Ini masih akan dikembangkan lagi. Ini grand desainnya adalah menggagalkan pelantikan 20 Oktober," kata I Gede.

Tersangka SR ditangkap di Mekarsari Timur, Kelurahan Mekarsari, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, sekitar pukul 00.15 WIB, Selasa (22/10/2019). Sementara, tersangka RA ditangkap di depan Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, sekitar pukul 01.30 WIB, Rabu (23/10/2019) kemarin.

Para tersangka dikenakan Pasal 55, 56 KUHP Jo Pasal 169 Ayat (1) KUHP dan atau Pasal 187 bis Ayat (1) KUHP dan atau Pasal 187 ter KUHP dan atau Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang R.I. No. 12 Tahun 1952 tentang Undang-Undang Darurat, dengan ancaman di atas 5 tahun penjara.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya telah membekuk enam orang tersangka berinisial SH, E, FAB, RH, HRS, dan PSM, yang tergabung dalam grup aplikasi percakapan, serta merencanakan menggagalkan pelantikan presiden dan wakil presiden, menggunakan ketapel bola berbahan peledak. Mereka telah ditahan di Mapolda Metro Jaya.



Sumber: BeritaSatu.com