KPK Perpanjang Penahanan Eks Dirkeu Angkasa Pura II

KPK Perpanjang Penahanan Eks Dirkeu Angkasa Pura II
Ilustrasi korupsi. ( Foto: ist )
Fana Suparman / YS Selasa, 29 Oktober 2019 | 18:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Direktur Keuangan PT Angkasa Pura II (Dirkeu PT AP II) Andra Y Agussalam akan lebih lama mendekam di sel tahanan Rumah Tahanan (Rutan) Gedung KPK.

Lembaga Antikorupsi memutuskan memperpanjang masa penahanan tersangka kasus dugaan suap proyek pengadaan Baggage Handling System (BHS) di anak usaha PT AP II, PT Angkasa Pura Propertindo (APP) tersebut.

Pelaksana Harian (Plh) Kabiro Humas KPK Yuyuk Andriati mengatakan, masa penahanan Andra diperpanjang selama 30 hari ke depan terhitung sejak 30 Oktober 2019. Dengan demikian, Andra bakal mendekam di sel tahanan hingga 28 November 2019.

"Hari ini penyidik melakukan perpanjangan penahanan selama 30 hari terhitung sejak 30 Oktober hingga 28 November 2019 untuk tersangka AYA (Andra Y. Agussalam) dalam TPK terkait dengan pengadaan pekerjaan BHS pada PT Angkasa Pura Propertindo yang dilaksanakan oleh PT. Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tahun 2019," kata Yuyuk di Gedung KPK Jakarta, Selasa (29/10/2019).

Dalam kasus ini, Andra diduga menerima suap sebesar US$ 71.000 dan SGD 96.700 dari Direktur Utama PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT Inti) Darman Mappangara dan orang kepercayaannya Taswin Nur. Suap ini bertujuan agar Andra mengupayakan PT Inti menggarap proyek Semi Baggage Handling Sistem di PT Angkasa Pura Propertindo, anak usaha PT AP II.

Tak hanya proyek BHS, pada 2019, PT Inti mengerjakan sejumlah proyek di PT AP II (Persero) lainnya, seperti proyek Visual Docking Guidance System (VGDS) dengan nilai proyek Rp 106,48 miliar, proyek Bird Strike senilai Rp 22,85 miliar, serta proyek pengembangan bandara senilai Rp86,44 miliar.

PT Inti juga memiliki daftar prospek proyek tambahan di PT AP II dan PT APP yakni proyek X-Ray 6 bandara senilai Rp 100 miliar, Baggage Handling System di enam bandara senilai Rp 125 miliar, dan proyek VDGS senilai Rp 75 miliar serta proyek radar burung senilai Rp 60 miliar. PT Inti (Persero) diduga mendapatkan sejumlah proyek tersebut berkat bantuan Andra. 



Sumber: Suara Pembaruan