Kompolnas Yakin Idham Azis Sosok Tepat Jadi Kapolri

Kompolnas Yakin Idham Azis Sosok Tepat Jadi Kapolri
Kabareskrim, Komjen Pol Idham Aziz. ( Foto: Antara Foto / Muhammad Adimaja )
Fana Suparman / YUD Rabu, 30 Oktober 2019 | 09:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk Kabareskrim Komjen Idham Azis untuk menjadi calon tunggal Kapolri menggantikan Jenderal Pol (Purn) Tito Karnavian yang dilantik sebagai Menteri Dalam Negeri Kabinet Indonesia Maju. Idham direncanakan menjalani fit and proper test atau uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR pada Rabu (30/10/2019) hari ini. Tak tertutup kemungkinan, setelah menjalani fit and proper test, DPR akan menetapkan Idham Azis sebagai Kapolri terpilih pada hari yang sama.

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengakui Idham Azis merupakan salah satu nama yang diusulkan kepada Presiden Jokowi sebagai calon Kapolri. Kompolnas menilai Idham Azis merupakan sosok yang tepat untuk memimpin Kepolisian mengingat Indonesia masih menghadapi kelompok-kelompok radikal dan jaringan terorisme.

"Kompolnas memberikan pertimbangan kepada Presiden tentang pengangkatan dan pemberhentian Kapolri. Hal tersebut adalah tugas Kompolnas. Komjen Pol Idham Aziz adalah salah satu yang dipertimbangkan oleh Kompolnas untuk menjadi calon Kapolri. Yang menjadi kepedulian kami adalah saat ini Indonesia menghadapi tantangan dari kelompok-kelompok radikal dan jaringan teroris, sehingga penunjukan Pak Idham sebagai calon Kapolri oleh Presiden Joko Widodo sangat tepat," kata Komisioner Kompolnas Poengky Indarti kepada Beritasatu.com, Rabu (30/10/2019).

Poengky membeberkan, Idham memiliki sederet prestasi cemerlang dalam memberantas terorisme. Bahkan, sejumlah tokoh terorisme kelas kakap di Indonesia ditangani oleh Idham seperti Doktor Azhari, Noordin M. Top dan jaringan teroris Santoso di Poso. Idham juga dinilai berprestasi menangani serangan bom Thamrin.

"Selain itu latar belakang Pak Idham di Reserse diharapkan mampu fokus pada peningkatan performance Polri di bidang penegakan hukum," katanya.

Poengky menambahkan, jika terpilih sebagai Kapolri, Idham memiliki sejumlah tantangan. Beberapa di antaranya penanganan kejahatan-kejahatan terkait kelompok-kelompok radikal dan jaringan teroris, kejahatan siber, kejahatan transnasional termasuk narkoba. Selain itu, kepolisian juga menghadap tantangan kejahatan-kejahatan kerah putih maupun kejahatan-kejahatan konvensional lainnya.

"Pak Idham diharapkan mampu meningkatkan profesionalitas dan modernisasi Polri agar makin dipercaya masyarakat. Agar apa yang sudah dirintis Pak Tito dapat terus dilanjutkan dan ditingkatkan," katanya.

Poengky menambahkan, kepolisian juga menghadapi tantangan untuk lebih mengedepankan tindakan preventif dan preemptive, sehingga tidak selalu menggunakan pendekatan penegakan hukum yang bersifat represif. Selain itu, Poengky berharap Korps Bhayangkara di bawah kepemimpinan Idham Azis dapat meningkatkan pelayanan pada masyarakat yang lebih inovatif, cepat, modern dengan menggunakan teknologi informasi.

"Rekrutmen yang baik, reward and punishment Polri harus serius dilakukan, serta peningkatan kesejahteraan anggota untuk membentuk SDM Polri yang lebih unggul dalam menjalankan tugas-tugas Polri untuk melayani, mengayomi dan melindungi masyarakat guna terciptanya harkamtibmas," paparnya.

Penunjukkan Idham sebagai calon Kapolri menimbulkan pro dan kontra. Sebagian kalangan menilai Idham masih memiliki 'utang' kasus yang harus diselesaikan. Salah satunya, kasus teror dengan penyiraman air keras yang menimpa penyidik senior KPK, Novel Baswedan pada 11 April 2017 lalu. Tim teknis yang dipimpin Idham Azis belum mampu membekuk pelaku lapangan maupun aktor intelektual teror terhadap Novel.

Padahal, pada 19 Juli lalu, Presiden Jokowi memberikan tenggat selama tiga bulan kepada Kepolisian untuk mengungkap teror yang membuat mata Novel cacat permanen tersebut. Dengan demikian, tenggat waktu tiga bulan tersebut telah berakhir pada 19 Oktober lalu. Selain kasus Novel, Idham juga memiliki tunggakan kasus lain, seperti penanganan ricuh demo di Bawaslu pada 22 Mei dan demo di depan DPR serta kasus-kasus lainnya.

Menanggapi hal ini, Poengky meyakini Idham dan jajaran Kepolisian bakal terus berupaya menuntaskan kasus-kasus tersebut. Menurutnya, kasus-kasus ini merupakan pekerjaan rumaj yang harus diselesaikan Kepolisian.

"Saya percaya Polri terus berusaha dan berupaya menangani serta mengungkap kasus-kasus tersebut, karena hal itu merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Polri," katanya. 



Sumber: BeritaSatu.com