Eks Dirut PLN Sofyan Basir Menanti Vonis Hakim

Eks Dirut PLN Sofyan Basir Menanti Vonis Hakim
Sofyan Basir. ( Foto: Antara )
Fana Suparman / CAH Senin, 4 November 2019 | 11:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Direktur Utama (Dirut) PT PLN Sofyan Basir hari ini menghadapi sidang putusan atas perkara dugaan suap proyek pembangunan PLTU Mulut Tambang Riau-1 di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (4/1/2019). Soesilo Aribowo, pengacara Sofyan Basir berharap kliennya diputus bebas atau setidaknya dijatuhi hukuman yang ringan.

"Harapannya tentu sesuai dengan pembelaan terdakwa dan PH, pengadilan memberikan putusan bebas ya atau setidaknya putusan yang paling ringan," kata Soesilo saat dikonfirmasi, Senin (4/11/2019).

Sebelumnya, Jaksa Penuntut KPK menuntut Sofyan untuk dijatuhi hukuman 5 tahun pidana penjara dan denda Rp 200 juta subsidair 3 bulan kurungan. Jaksa meyakini Sofyan Basir terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah telah memberikan kesempatan, sarana dan keterangan terjadinya tindak pidana suap terkait proyek pembangunan PLTU Mulut Tambang Riau-1. Suap tersebut diberikan pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited Johannes B. Kotjo kepada mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni M Saragih, dan mantan Sekjen Partai Golkar Idrus Marham.

Eks Dirut PLN Sofyan Basir Dituntut 5 Tahun Penjara

Dalam menjatuhkan tuntutan terhadap Sofyan, jaksa mempertimbangkan sejumlah hal. Untuk hal yang memberatkan, perbuatan Sofyan dinilai jaksa tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas tindak pidana korupsi. Sementara untuk hal yang meringankan, jaksa menilai Sofyan Basir bersikap sopan selama pemeriksaan di persidangan dan belum pernah dihukum. Selain itu, Sofyan Basir juga dinilai tidak ikut menikmati hasil tindak pidana suap yang telah dibantunya.

Diberitakan, jaksa KPK mendakwa Sofyan Basir telah memberikan kesempatan, sarana dan kesempatan terjadi tindak pidana suap terkait proyek pembangunan PLTU Mulut Tambang Riau-1. Suap tersebut diberikan pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited Johannes B. Kotjo kepada mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni M Saragih, dan mantan Sekjen Partai Golkar Idrus Marham.

Bos-bos BUMN Terciduk KPK, Sri Mulyani Sebut Mereka Pengkhianat

Johannes Kotjo menyuap Eni dan Idrus sekitar Rp 4,75 miliar agar dapat menggarap proyek senilai US$ 900 juta tersebut. Rencananya proyek PLTU Riau-1 digarap konsorsium yang terdiri dari anak usaha PLN, PT Pembangkit Jawa Bali Investasi (PJBI), Blackgold Natural, dan China Huadian Engineering Company yang dibawa oleh Johannes Kotjo. Sementara, Sofyan, diduga turut memuluskan praktik suap tersebut karena proyek PLTU Riau-1 berada di PLN. Sofyan disebutkan memberi kesempatan atau memfasilitasi dengan turut menghadiri pertemuan-pertemuan dengan Eni, Kotjo dan Idrus Marham untuk muluskan proyek tersebut. 



Sumber: Suara Pembaruan