Petinggi Sarinah Mangkir dari Pemeriksaan KPK

Petinggi Sarinah Mangkir dari Pemeriksaan KPK
Ilustrasi KPK. ( Foto: AFP / Bay Ismoyo )
Fana Suparman / YUD Senin, 11 November 2019 | 20:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Ritel PT Sarinah (Persero) Lies Permana Lestari mangkir atau tidak memenuhi panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (11/11/2019). Petinggi perusahaan BUMN itu sedianya diperiksa sebagai saksi kasus dugaan proyek pengadaan Baggage Handling System (BHS) yang melibatkan dua perusahaan BUMN yakni PT Angkasa Pura II dan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI).

Keterangan Lies Permana Lestari dibutuhkan penyidik untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka mantan Dirut PT INTI, Darman Mappangara.

"Saksi terkait dengan pengadaan pekerjaan BHS untuk tersangka DMP (Darman Mappangara) tidak hadir," kata Plh. Kepala Biro Humas KPK Chrystelina GS di Gedung KPK, Jakarta, Senin (11/11/2019).

Lies Permana Lestari menyampaikan surat kepada penyidik atas ketidakhadirannya hari ini. Dalam surat tersebut, Lies mengklaim sedang sakit.

"Yang bersangkutan mengirimkan surat sakit," katanya.

Tak hanya Lies, seorang wiraswasta bernama Sujono juga mangkir dari pemeriksaan penyidik. Sujono mengklaim belum menerima surat panggilan pemeriksaan.

"Surat panggilan menurut yang bersangkutan belum sampai," katanya.

Tim penyidik memastikan akan menjadwalkan ulang pemeriksaan terhadap kedua saksi kasus dugaan suap antar BUMN ini.
Diketahui, KPK menetapkan Darman Mappangara sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek BHS di PT Angkasa Pura Propertindo, anak usaha PT Angkasa Pura II (PT AP II). Penetapan tersangka terhadap Darman ini merupakan pengembangan dari kasus yang sama yang telah menjerat Direktur Keuangan PT AP II Andra Y. Agussalam dan staf PT INTI Taswin Nur.

Darman bersama-sama Taswin diduga menyuap Andra sebesar USD 71 ribu dan SGD 96.700 untuk "mengawal" agar proyek BHS dikerjakan oleh PT. INTI.

Tak hanya proyek BHS, pada 2019, PT INTI mengerjakan sejumlah proyek di PT Angkasa Pura II (Persero) lainnya, seperti proyek Visual Docking Guidance System (VGDS) dengan nilai proyek Rp 106,48 miliar, proyek Bird Strike senilai Rp 22,85 miliar serta proyek pengembangan bandara senilai Rp86,44 miliar. PT INTI juga memiliki daftar prospek proyek tambahan di PT Angkasa Pura II dan PT Angkasa Pura Propertindo, yakni proyek X-Ray 6 bandara senilai Rp 100 miliar Baggage Handling System di enam bandara senilai Rp 125 miliar dan proyek VDGS senilai Rp 75 miliar serta proyek radar burung senilai Rp 60 miliar. PT INTI (Persero) diduga mendapatkan sejumlah proyek tersebut berkat bantuan Andra.



Sumber: Suara Pembaruan