Kasus Distribusi Gula PTPN III, KPK Terus Periksa Dirut PTPN

Kasus Distribusi Gula PTPN III, KPK Terus Periksa Dirut PTPN
Ilustrasi (Foto: BSMH)
Fana Suparman / WBP Rabu, 13 November 2019 | 18:06 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus memeriksa Direktur Utama (Dirut) di lingkungan PT Perkebenunan Nusantara (PTPN) yang berada di bawah naungan PTPN III Holding. Pemanggilan pemeriksaan terhadap para petinggi PTPN itu dilakukan tim penyidik KPK untuk menuntaskan penyidikan kasus dugaan suap distribusi gula di PTPN III tahun 2019 yang menjerat Dirut PTPN III Dolly Pulungan. Pada Rabu (13/11/2019) hari ini, tim penyidik menjadwalkan memeriksa Dirut PTPN X, Dwi Satriyo Annurogo dan Dirut PTPN XI, Gede Meivera. Kedua petinggi PTPN itu diperiksa penyidik untuk melengkapi berkas penyidikan Direktur Pemasaran PTPN III I Kadek Kertha Laksana yang juga menyandang status tersangka kasus dugaan suap distribusi gula.

"Keduanya diperiksa sebagai saksi untuk tersangka IKL (I Kadek Kertha Laksana)," kata Jubir KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi.

Pada Selasa kemarin, penyidik telah memanggil Direktur Utama PTPN XII, M Cholidi dan Direktur Utama PTPN IX Iryanto Hutagaol. Keduanya dipanggil untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka I Kadek Kertha Laksana.‎ Namun, Cholidi mangkir pemeriksaan.

Belum diketahui, kaitan para petinggi PTPN tersebut dengan kasus suap yang menjerat Dolly Pulungan. Namun, PTPN III merupakan induk BUMN perkebunan yang membawahi 13 PTPN, termasuk PTPN X dan PTPN IX yang dipimpin Gede Meivera dan Dwi Satriyo.

Diketahui KPK menetapkan Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) Dolly Pulungan, Direktur Pemasaran PTPN III I Kadek Kertha Laksana dan pengusaha gula yang juga bos PT Fajar Mulia Transindo Pieko Nyotosetiadi sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi gula di PTPN III tahun 2019. Penetapan ketiganya sebagai tersangka ini dilakukan KPK melalui gelar perkara setelah memeriksa intensif sejumlah pihak yang ditangkap dalam rangkaian operasi tangkap tangan (OTT) di Jakarta, Selasa (3/9/2019). Dolly melalui Kadek Kertha Laksana diduga menerima suap sebesar SGD 345 ribu dari Pieko. Suap ini diberikan terkait distribusi gula di PTPN III.

Pieko merupakan pemilik dari PT Fajar Mulia Transindo dan perusahaan lain yang bergerak di bidang distribusi gula. Pada awal tahun 2019 perusahaan Pieko ditunjuk menjadi pihak swasta dalam skema long term contract dengan PTPN III (Persero).
Dalam kontrak ini, pihak swasta mendapat kuota untuk mengimpor gula secara rutin setiap bulan selama kontrak berjalan. Di PTPN III terdapat aturan internal mengenai harga gula bulanan yang disepakati oleh tiga komponen yaitu PTPN III, Pengusaha Gula, dan ASB selaku Ketua Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI). Dalam sebuah pertemuan, Dolly meminta uang pada Pieko terkait persoalan pribadinya untuk menyelesaikannya melalui ASB.

Dolly kemudian meminta Kadek Kertha Laksana untuk menemui Pieko untuk menindaklanjuti permintaan uang sebelumnya. Dalam pertemuan itu, Pieko memerintahkan orang kepercayaannya bernama Ramlin untuk mengambil uang di money changer dan menyerahkannya kepada Corry Luca, pegawai PT KPBN anak usaha PTPN III di Kantor PTPN, Jakarta, pada Senin (2/9). Selanjutnya Corry mengantarkan uang sebesar SGD 345 ribu kepada ke Kadek Kertha Laksana di Kantor KPBN.



Sumber: Suara Pembaruan