Kapolri: Pelaku Teror Terpengaruh Medsos

Kapolri: Pelaku Teror Terpengaruh Medsos
Ilustrasi penggeledahan rumah terduga teroris. (Foto: Antara)
Markus Junianto Sihaloho / FMB Rabu, 20 November 2019 | 14:26 WIB

Jakarta - Para pelaku teror belakangan melakukan aksi radikalisme karena mengikuti ISIS serta terpengaruh oleh paparan konten radikal yang disebarkan melalui media sosial.

Hal itu disampaikan oleh Kapolri Jenderal Idham Azis di hadapan Komisi III DPR, di Jakarta, Rabu (20/11/2019).

Awalnya, Kapolri menjelaskan bahwa pengungkapan kasus bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan yang terjadi pada 13 november 2019 telah dilaksanakan. Selain mengungkap identitas pelaku bom bunuh diri dalam delapan hari pascaperistiwa tersebut, Polri juga berhasil menangkap 74 orang tersangka jaringan teror di 10 wilayah. Yaitu, di Sumut berjumlah 30 orang, di Jabar 11 orang, di Jateng 11 orang, di Pekanbaru lima orang, di Banten lima orang, di Kaltim empat orang, di DKI Jakarta tiga orang, di Aceh dua orang, di Jatim dua orang, dan di Sulsel satu orang.

"Serta anak-anak (aparat Kepolisian, red) Densus masih terus bergerak," kata Idham.

Hal selanjutnya, berdasarkan kasus penyerangan terhadap mantan Menko Polhukam Jenderal (purn) Wiranto dan kasus bom bunuh diri di Poltabes Medan, para pelaku merupakan kelompok Jamaah Ansharut Daulah. Afiliasi mereka adalah ke ISIS.

"Para pelaku terpapar radikalisme melalui medsos sehingga memiliki tujuan menyerang pemerintah dan aparat kepolisian karena dianggap sebagai thogut," katanya.



Sumber: BeritaSatu.com