Kepala BNN Klaim Sudah Berusaha Perangi Narkotika

Kepala BNN Klaim Sudah Berusaha Perangi Narkotika
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Heru Winarko mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR RI di komplek Parlemen, Jakarta, Kamis (21/11/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Hotman Siregar / CAH Kamis, 21 November 2019 | 22:15 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi III DPR RI mengkritisi kinerja Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam pemberantasan narkotika di tanah air. Bahkan komisi hukum mengancam akan membubarkan BNN dengan cara meleburkannya ke Polri jika tidak mampu memberantas narkotika.

Kepala BNN Heru Winarko mengatakan pihaknya sudah berusaha semaksimal untuk memberantas penyalahgunaan narkotika. Dia mengklaim telah melakuan penangkapan sekaligus penangkalan masuknya narkotik ake tanah air.

"Kita sudah buat terobosan dengan mengefektifkan kerja BNN," kata Heru usai rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR di Senayan, Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Menurut Heru, pihaknya telah membagi tugas dalam tiga cluster. Cluster pertama, kata dia terkait operasional pemberantasan. Cluster ini bekerja sama dengan beberapa lembaga seperti Polri, Bea Cukai, Imigrasi dan lain-lain.

"Itu di dalam negeri. Kita juga kerja sama dengan luar negeri untuk sharing informasi. Bukan hanya tangkap tapi tangkal," ujar Heru.

Cluster kedua, terkait assesment yang memiliki tugas untuk mengidentifikasi pengguna dan sumber masuknya narkotika. Cluster ini bekerja sama dengan kehakiman, kepolisian, kejaksaan dan Mahkamah Agung.

"Jadi kita melakukan assesment. Jadi pengguna-pengguna itu vonisnya memungkinkan untuk direhabilitasi," jelasnya.

Cluster berikutnya terkait daerah rawan narkoba. BNN melakuan monitoring dan pemberantasan di daerah-daerah yang menjadi sumber masuknya narkotik.

"Gimana daerah ini bisa memiliki development, termasuk juga daerah dan tanaman spt ganja. Komisi III DPR akan memperkuat anggaran, dan lain-lain," kata dia.

Heru mengklaim bahwa terjadi peningkatan pemberantasan narkotika belakangan ini. Tanpa menyebutkan jumlah penangkapan secara spesifik, dia mengatakan, peredaran beberapa barang haram seperti putaw, heroin sudah mulai berkurang.

"Yang tinggi masih ganja. Termasuk daerah sumbernya kita ungkap. Medan dan Aceh," pungkasnya.

Heru menyebut penyalahgunaan dan peredaran narkotika di masyarakat menunjukkan peningkatan dengan meluasnya korban akibat narkoba. Menurut dia, kecenderungan meningkatnya penggunaan narkotika meningkat dengan korban mencakup dari kalangan anak-anak hingga aparat negara.

Merujuk data BNN pada 2018, prevalensi angka penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar di 13.000 kota provinsi di Indonesia mencapai angkta 3,2 persen atau setara dengan 2,29 juta orang.

Sementara, pada 2017, BNN mencatat angka prevalensi penyalahgunaan narkotika sebesar 1,77 persen atau setara 3.376.115 orang pada rentang usia 10-59 tahun.



Sumber: Suara Pembaruan