KPK Diburu Waktu Tuntaskan Kasus Garuda

KPK Diburu Waktu Tuntaskan Kasus Garuda
Mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Emirsyah Satar. ( Foto: Antara / Aditya Pradana Putra )
Fana Suparman / WBP Rabu, 27 November 2019 | 20:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini sedang diburu waktu untuk menuntaskan kasus dugaan suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia. Tak kurang dari seminggu, tim penyidik KPK harus merampungkan berkas penyidikan dengan tersangka mantan Dirut PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar dan pendiri PT Mugi Rekso Abadi (MRA) sekaligus Beneficial Owner Connaught International Pte.ltd Soetikno Soedarjo. Hal ini lantaran batas masa penahanan kedua tersangka akan berakhir pada 4 Desember 2019 mendatang. KPK harus membebaskan demi hukum Emirsyah Satar dan Soetikno Soedarjo, jika hingga batas waktu masa penahanan kedua tersangka berakhir berkas penyidikan tak kunjung tuntas dan dilimpahkan ke tahap penuntutan.

Dikonfirmasi mengenai hal ini, Jubir KPK Febri Diansyah menyatakan proses penyidikan kasus dugaan suap di Garuda hampir rampung. Bahkan, pelimpahan tahap 1 telah dilakukan pada Senin (25/11/2019) kemarin. Febri meyakini berkas perkara Emirsyah dan Soetikno dapat dilimpahkan ke tahap penuntutan atau tahal 2 sebelum masa penahanan keduanya berakhir.
"Proses penanganan perkara kasus suap di Garuda tersebut memang sudah hampir selesai. Pelimpahan tahap 1 telah kami lakukukan Senin ini, berikutnya menjelang habisnya masa tahanan pada 4 Desember 2019 perkara akan dilimpahkan dari Penyidikan ke Penuntutan dan segera disidang," kata Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Rabu (27/11/2019).

Febri mengakui, kasus suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat di Garuda Indonesia yang menjerat Emirsyah dan Soetikno Soedarjo tidaklah mudah. Hal ini lantaran terdapat transaksi keuangan lintas negara yang harus didalami dan dianalisis tim penyidik. Selain itu, KPK perlu menggalang kerja sama internasional dalam mengusut kasus ini terutama berkaitan dengan penelusuran bukti-bukti. Namun, Febri memastikan proses penanganan perkara telah sesuai dengan rencana yang dicanangkan tim penyidik. "Ini sesuai rencana penanganan perkara. Memang proses sebelumnya cukup panjang karena begitu banyak rekening lintas negara yang harus dianalisis dan ditelusuri. Termasuk juga kerjasama internasinal untuk penelusuran bukti," kata Febri Diansyah.

Diketahui, KPK menetapkan Soetikno bersama mantan Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar dan mantan Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Hadinoto Soedigno sebagai tersangka kasus dugaan suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia. KPK menduga Emirsyah dan Hadinoto tidak hanya menerima suap dari Soetikno terkait pengadaan mesin pesawat Rolls-Royce.

Suap yang diterima Emirsyah dan Hadinoto dari Soetikno ini diduga juga berasal dari pihak pabrikan lain yang mendapatkan proyek di PT Garuda Indonesia. Untuk program peremajaan pesawat, Emirsyah Satar melakukan beberapa kontrak pembelian dengan empat pabrikan pesawat pada 2008-2013 dengan nilai miliaran Dollar Amerika Serikat, yakni kontrak pembelian mesin Trent seri 700 dan perawatan mesin atau Total Care Program dengan perusahaan Rolls Royce, kontrak pembelian pesawat Airbus A330 dan Airbus A320 dengan perusahaan Airbus S.A.S, kontrak pembelian pesawat ATR 72-600 dengan perusahaan Avions de Transport Regional (ATR) dan kontrak pembelian pesawat Bombardier CRJ 1000 dengan perusahaan Bombardier Aerospace Commercial Aircraft. KPK mengidentifikasi aliran uang lintas negara tersebut menggunakan sekitar 30 rekening di luar negeri. Dalam pengembangan kasus ini, KPK menetapkan Emirsyah dan Soetikno sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana pencucian uang.



Sumber: Suara Pembaruan