Pertahankan Single Bar, Otto Hasibuan Diminta Pimpim Peradi Lagi

Pertahankan Single Bar, Otto Hasibuan Diminta Pimpim Peradi Lagi
Pengacara senior Otto Hasibuan saat menghadiri Rapat Kerja Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jawa Timur, Rabu, 27 November 2019. (Foto: Istimewa)
Asni Ovier / AO Kamis, 28 November 2019 | 09:17 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - Advokat senior Otto Hasibuan diminta untuk kembali menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) pada Musyawarah Nasional (Munas) 2020. Desakan itu muncul setelah organisasi advokat terpecah-pecah karena hilangnya sistem single bar.

Desakan itu mengemuka menjelang pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Peradi di Shangrilla Hotel Surabaya, Jawa Timur, selama tiga hari ke depan. Rakernas yang dibuka di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Rabu (27/11) itu bertema “Melalui Rakernas Kita Pertahankan Peradi sebagai Wadah Tunggal (Single Bar)”.

Otto sebetulnya pernah memimpin Peradi selama dua periode, yakni pada 2005-2010 dan 2010-2015. Kemudian, Peradi dipimpin Fauzi Hasibuan dan Otto dipercaya menjadi Ketua Dewan Pembina. Pada saat itu Peradi terbelah, di antaranya Peradi kubu Juniver Girsang. Di luar itu, banyak organisasi advokat bermunculan.

Otto mengatakan, dirinya akan mempertimbangkan untuk menjadi ketua umum lagi jika memang diminta oleh mayoritas anggota Peradi. Dia ingin mempersatukan organisasi advokat dengan mempertahankan sistem single bar, sehingga muruah dan martabat advokat yang kini merosot bisa kembali seperti dulu.

“Sebenarnya saya tidak mau maju sebagai ketua umum lagi, tetapi memang hampir semua cabang meminta saya kembali memimpin supaya bisa merebut kembali muruah Peradi. Saya bilang ke mereka (cabang-cabang), itu terserah kalian. Walaupun saya berat, tentunya itu harus dipertimbangkan,” kata Otto.

Dijelaskan, organisasi advokat terpecah-pecah setelah keluar Surat Edaran Mahkamah Agung (MA) Nomor 73/KMA/HK/IX/2015. Saat ini setidaknya ada 29 organisasi advokat di Indonesia yang semuanya boleh mengajukan penyumpahan advokat untuk anggotanya. SEMA itulah yang pada akhirnya mengesampingkan single bar.

Yang menjadi masalah, kata Otto, ketika sistem multibar dibuka, maka banyak organisasi advokat yang tidak selektif dalam merekrut anggota dan mengajukan penyumpahan. Akibatnya, profesionalitas terabaikan dan muruah serta martabat advokat sebagai penegak hukum memudar.

“Ujung-ujungnya yang dirugikan adalah para pencari keadilan (klien),” ujarnya. Menurut Otto, urusan single bar dan multibar semestinya sudah lama selesai. Di negara-negara lain, sistem yang dianut di dunia advokat adalah single bar dan itu sudah sejak berpuluh-puluh tahun silam.

Ketua Umum DPN Peradi, Fauzi Hasibuan mengatakan, saat ini Peradi memiliki 132 cabang dari awalnya 60 cabang. Karena itu, dia memaklumi jika kemudian kerap terjadi dinamika di dunia advokat sehingga mengesankan terjadi perpecahan.



Sumber: Suara Pembaruan