Pengamat: Penyelundupan di Pesawat Sudah Lazim

Pengamat: Penyelundupan di Pesawat Sudah Lazim
Barang bukti diperlihatkan sesaat sebelum konferensi pers terkait penyelundupan motor Harlery Davidson dan sepeda Brompton menggunakan pesawat baru milik Garuda Indonesia di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis 5 Desember 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Joanito De Saojoao )
Aichi Halik / AHL Jumat, 6 Desember 2019 | 20:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat penerbangan yang juga Presiden Direktur Aviatory Indonesia, Ziva Narendra Arifin mengatakan, kasus penyelundupan barang berharga dalam dunia penerbangan nasional merupakan hal yang lazim.

"Dengan menyesal saya mengatakan itu lazim, kita tahu itu menjadi rahasia publik pasti ada yang nitip sana sini," kata Ziva dalam Program Prime Time Beritasatu News Channel, Jakarta, Jumat (6/12/2019) petang.

Ziva mengakui pengawasan di lapangan kurang ketat sehingga insiden penyelundupan barang mewah dalam pesawat rentan terjadi berulang-ulang.

"Dari segi nilai, ini (kasus Harley di Garuda) tidak terlalu besar, seperti ini sudah biasa terjadi dan akan terus terjadi kalau pengontrolan di lapangan tidak diperketat. Kita tahulah banyak kejadian serupa terjadi mungkin dengan nilai barang lebih tinggi," ujar Ziva.

"Ini bukan luar biasa, tetapi (masalahnya) ini terjadi pada perusahaan Tbk, milik BUMN dengan profile yang tinggi, mungkin saja itu terjadi bukan pada sekelas dirut, mungkin dilakukan orang awam tapi punya nilai lebih tinggi, itu (kasus) kemana?," imbuh Ziva.

Menurut Ziva, pelaku industri dan regulator harus sama-sama membenahi diri, kuncinya disiplin dan tegas dalam menegakkan peraturan yang ada.

"Dari sisi industri atau pelakunya harus lebih tertib dan disiplin, dan tentunya pengawasan dari sisi regulator khususnya dari Kementerian Perhubungan dan Kementerian Keuangan dibawahnya ada Dirjen Pajak dan Bea Cukai harus punya mata elang," ucap Ziva.



Sumber: BeritaSatu TV