Pegawai KPK Tunggu Gebrakan Kabareskrim Baru Tuntaskan Kasus Teror Novel

Pegawai KPK Tunggu Gebrakan Kabareskrim Baru Tuntaskan Kasus Teror Novel
Ketua Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Yudi Purnomo Harahap. (Foto: ANTARA)
Fana Suparman / JAS Jumat, 6 Desember 2019 | 22:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyambut diangkatnya Irjen Pol Listyo Sigit Prabowo menjadi Kabareskrim, menggantikan Jenderal Polisi Idham Azis yang sudah terpilih sebagai Kapolri.

Para pegawai Lembaga Antikorupsi saat ini menunggu gebrakan Listyo dalam menunaikan janji menuntaskan penanganan kasus teror terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan.

"Kami mengharapkan bahwa Kabareskrim yang baru pak Listyo Sigit Prabowo mampu untuk mengungkap kasus ini," kata Ketua Wadah Pegawai (WP) KPK, Yudi Purnomo di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (6/12/2019).

Yudi mengungkapkan pihaknya menaruh harapan besar kepada Listyo untuk mengungkap teror terhadap Novel yang terjadi pada 11 April 2017 silam. Harapan tersebut disampaikan Yudi lantaran mengaku mengenal Listyo sebagai perwira reformis dan antikorupsi di tubuh Korps Bhayangkara.

"Kami sudah kenal Bang Sigit lama dan kami kenal beliau sebagai seorang perwira reformis yang lama dan juga siap untuk memberantas korupsi di negeri ini. Sehingga kami mempunyai harapan yang besar bahwa Bang Sigit selaku Kabareskrim baru itu bisa mengungkapkan kasus Bang Novel," katanya.

Selain itu, Yudi berharap Presiden Joko Widodo memberikan target waktu yang ketat kepada Listyo dalam menyelesaikan kasus teror Novel. Hal ini lantaran target penuntasan kasus ini terus diundur.

Diketahui, setelah masa kerja tim pencari fakta berakhir, Presiden Jokowi mengultimatum Kapolri saat itu, Tito Karnavian untuk menuntaskan pengungkapan kasus Novel Baswedan, dalam tiga bulan sejak 19 Juli 2019 lalu. Perintah ini segera ditindaklanjuti Tito dengan membentuk tim teknis dengan surat tugas tertanggal 1 Agustus 2019.

Hingga batas waktu kerja tim teknis berakhir pada Kamis (31/10/2019) lalu, peneror Novel belum juga dibekuk. Jokowi kembali memberi tenggat pada aparat kepolisian untuk mengungkap kasus teror Novel sampai awal Desember 2019. Namun, lagi-lagi hingga saat ini kasus tersebut masih gelap dan peneror Novel masih bergentayangan.

"Sampai hari ini Desember pekan pertama sesuai janji Pak Jokowi bahwa kasus Bang Novel akan selesai namun sampai hari ini kasusnya tidak selesai juga," ungkap Yudi.

Yudi menyatakan kasus teror terhadap Novel, merupakan salah satu kasus yang menyedot perhatian publik dan seharusnya melecut semangat jajaran kepolisian. Jangan sampai, kasus ini masih menjadi misteri hingga tahun berganti.

"Oleh karena itu sekali lagi kami harapkan bahwa Kabareskrim baru yaitu Bapak Listyo Sigit Prabowo itu mampu mengungkapkan kasus novel dan menangkap pelaku serta aktor-aktor di belakangnya," tegasnya.

Yudi menyatakan, berlarutnya kasus ini membuat Novel menjadi korban berulang kali. Tak hanya menjadi korban teror yang membuat matanya cacat, Novel saat ini menjadi korban atas fitnah-fitnah keji sebagian kalangan yang menyebut kasus teror tersebut hanya rekayasa.

"Nantinya akan semakin liar. Kita bisa melihat bagaimana ada orang yang melaporkan Novel, dan mengatakan rekayasa. Padahal seluruh masyarakat negeri sudah paham bahwa itu bukan kasus rekayasa," katanya.

Selain itu, Yudi menegaskan, kasus teror terhadap Novel bukan hanya menyangkut Novel secara pribadi, melainkan juga teror terhadap upaya pemberantasan korupsi. Terdapat sejumlah pegawai dan pimpinan KPK yang diteror saat menjalankan tugas memberantas korupsi.

Namun, seperti halnya kasus Novel, hingga saat ini, kasus-kasus terhadap pegawai dan pimpinan KPK masih belum menemui titik terang.

"Kami mengharapkan Kabareskrim baru juga mampu untuk mengungkap kasus teror yang lain termasuk terhadap pimpinan KPK di mana rumah Pak Laode M Syarief dan Pak Agus Rahardjo sampai saat ini pun belum terungkap," papar Yudi.

"Jadi kami mengharapkan bahwa tahun ini merupakan tahun terakhir dari kasus Novel. Pada Januari kasus ini genap seribu hari sejak 11 April tahun 2017 dan ini tentu saja sudah sangat sangat lama. Ini penting bagi kita untuk menunjukkan komitmen terhadap pemberantasan korupsi apalagi nanti 9 Desember adalah Hari Antikorupsi. Di tengah pelemahan KPK maka terungkapnya kasus Novel merupakan harapan yang baik bagi terwujudnya upaya kita memberantas korupsi," kata Yudi.

Diketahui, Novel diteror dengan disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017 silam. Kedua matanya rusak parah. Novel pun berobat di Singapura dan cacat hingga kini.

Pelaku penyerangan dalam kasus ini belum ditangkap. Tim pencari fakta bentukan Kapolri berteori jika teror terhadap Novel berkaitan dengan enam kasus yang ditanganinya, yakni kasus korupsi proyek e-KTP, kasus suap sengketa pilkada yang melibatkan eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar, kasus Sekretaris MA, kasus Wisma Atlet, kasus suap perizinan yang melibatkan Bupati Buol Amran Batalipu serta satu kasus lagi yang bukan perkara korupsi atau suap, melainkan pidana umum, yakni kasus pencurian sarang burung walet di Bengkulu.

Novel dan pengacaranya menambahkan tak tertutup kemungkinan teror ini terkait kasus buku merah. Buku merah merujuk pada buku tabungan berisi transaksi keuangan CV Sumber Laut Perkasa milik pengusaha daging Basuki Hariman. Buku itu menjadi salah satu bukti dalam kasus korupsi yang menjerat Basuki dan anak buahnya Ng Fenny dalam kasus suap ke hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar.

Dua penyidik KPK, Roland dan Harun, belakangan dipulangkan ke Polri karena diduga telah merobek 15 lembar catatan transaksi dalam buku bank tersebut. Mereka juga membubuhkan tipe ex untuk menghapus sejumlah nama penerima uang dari perusahaan Basuki. Hal ini lantaran sejumlah aliran dana itu diduga mengalir ke petinggi Kepolisian meski telah berulangkali dibantah.

Setelah masa kerja tim pencari fakta berakhir, Presiden Jokowi mengultimatum Kapolri saat itu, Tito Karnavian untuk menuntaskan pengungkapan kasus Novel Baswedan, dalam tiga bulan sejak 19 Juli 2019 lalu. Perintah ini segera ditindaklanjuti Tito dengan membentuk tim teknis dengan surat tugas tertanggal 1 Agustus 2019.

Dengan demikian, tenggat yang diberikan Jokowi kepada tim tersebut berakhir pada Kamis (31/10/2019) lalu. Namun, peneror Novel belum juga dibekuk. Jokowi kembali memberi tenggat pada aparat kepolisian untuk mengungkap kasus teror Novel sampai awal Desember 2019. 



Sumber: Suara Pembaruan