Presiden Panggil Kapolri, KPK Harap Peneror Novel Segera Dibekuk

Presiden Panggil Kapolri, KPK Harap Peneror Novel Segera Dibekuk
Laode M Syarif ( Foto: Beritasatu Photo / Joanito De Saojoao )
Fana Suparman / CAH Senin, 9 Desember 2019 | 20:23 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana memanggil Kapolri Jenderal Idham Azis pada Senin (9/12/2019) sore ini. Pemanggilan ini terkait perkembangan penanganan kasus teror terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif mengapresiasi langkah Jokowi. Syarif berharap dari pertemuan tersebut, peneror Novel dapat segera terungkap dan dibekuk.

"Ya kita KPK ucapkan terima kasih, semoga saja yang melakukan serangan terhadap Novel itu bisa ditemukan," kata Syarif di Gedung Penunjang KPK, Jakarta, Senin (9/12/2019).

Syarif menyatakan, pihaknya sangat mengapresiasi kerja Kepolisian jika berhasil menangkap peneror Novel. Menurutnya, pengungkapan kasus teror ini akan menjadi prestasi bagi Korps Bhayangkara.

Baca JugaKPK Minta Kabareskrim Segera Laporkan Perkembangan Kasus Novel

"Kalau betul-betul didapatkan dan ditemui, ini juga prestasi kepada Kapolri dan Kabareskrim yang baru. Walaupun itu pasti (ada kontribusi) hasil kerja yang dulu-dulu," katanya.

Diketahui saat mengikuti peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) di SMK 57 Jakarta, Senin (9/12/2019), Jokowi mengonfirmasi rencana pemanggilan Kapolri. Menurutnya, pertemuan akan berlangsung di Istana Negara, Senin (9/12/2019) sore.

"Sore nanti akan saya (panggil)," ujar Jokowi di SMKN 57, Jakarta Selatan, Senin (9/12/2019).

Baca JugaDipanggil Presiden Jokowi Soal Novel, Polri Belum Tahu

Diketahui, setelah masa kerja tim pencari fakta berakhir, Presiden Jokowi mengultimatum Kapolri saat itu, Tito Karnavian untuk menuntaskan pengungkapan kasus Novel Baswedan, dalam tiga bulan sejak 19 Juli 2019 lalu. Perintah ini segera ditindaklanjuti Tito dengan membentuk tim teknis dengan surat tugas tertanggal 1 Agustus 2019. Hingga batas waktu kerja tim teknis berakhir pada Kamis (31/10/2019) lalu. peneror Novel belum juga dibekuk. Jokowi kembali memberi tenggat pada aparat kepolisian untuk mengungkap kasus teror Novel sampai awal Desember 2019. Namun, lagi-lagi hingga saat ini kasus tersebut masih gelap dan peneror Novel masih bergentayangan.

Diberitakan, Novel diteror dengan disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017 silam. Kedua matanya rusak parah. Novel pun berobat di Singapura dan cacat hingga kini.

Tim pencari fakta bentukan Kapolri berteori jika teror terhadap Novel berkaitan dengan enam kasus yang ditanganinya, yakni kasus korupsi proyek e-KTP, kasus suap sengketa pilkada yang melibatkan eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar, kasus Sekretaris MA, kasus Wisma Atlet, kasus suap perizinan yang melibatkan Bupati Buol Amran Batalipu serta satu kasus lagi yang bukan perkara korupsi atau suap, melainkan pidana umum, yakni kasus pencurian sarang burung walet di Bengkulu. Novel dan pengacaranya menambahkan tak tertutup kemungkinan teror ini terkait kasus buku merah.

Buku merah merujuk pada buku tabungan berisi transaksi keuangan CV Sumber Laut Perkasa milik pengusaha daging Basuki Hariman. Buku itu menjadi salah satu bukti dalam kasus korupsi yang menjerat Basuki dan anak buahnya Ng Fenny dalam kasus suap ke hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar.

Dua penyidik KPK, Roland dan Harun, belakangan dipulangkan ke Polri karena diduga telah merobek 15 lembar catatan transaksi dalam buku bank tersebut. Mereka juga membubuhkan tipe ex untuk menghapus sejumlah nama penerima uang dari perusahaan Basuki. Hal ini lantaran sejumlah aliran dana itu diduga mengalir ke petinggi Kepolisian meski telah berulangkali dibantah. (F-5)



Sumber: Suara Pembaruan