Laode Syarif dan Duka Anak Laut untuk Randi

Laode Syarif dan Duka Anak Laut untuk Randi
Ribuan Mahasiswa dari sejumlah elemen mahasiswa se-Jabodetabek berunjuk rasa menolak UU KPK dan pengesahan RUU KUHP di depan kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin 23 September 2019. (Foto: Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao)
Fana Suparman / WM Jumat, 20 Desember 2019 | 10:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -Suara parau seorang pria lamat terdengar di depan sebuah ruang auditorium di Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi atau Anti-Corruption Learning Center (ACLC), Jakarta, Kamis (19/12/2019) sore. Beberapa kali pria yang mengenakan kemeja batik biru itu terlihat menarik nafas panjang sambil menyeka air mata yang nyaris meleleh.

Setelah merasa tenang, pria berkacamata yang diketahui merupakan Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif itu melanjutkan membaca puisi melalui gawai yang digenggamnya erat.

"Hari Kamis, 26 September 2019. Pantai Lakarinta tenang. Angin semilir memanjakan ikan yang melompat riang di balik matahari sore. La Sali sedang melaut dengan kail dan jaring satu-satunya, demi matahari dan dua bulan yang merantau. Burung laut, bersuara lirih menghampiri perahunya, tapi tak dihiraukan karena angannya dipenuhi matahari dan dua bulan di tanah rantau.
Dia tambatkan perahunya, lalu menuju rumah dengan menghitung langkahnya.
Tapi kali ini berbeda, karena kerabat menjemput-nya dalam diam.
'Ohae Ini - Ohae Ini?'
Tak ada suara-Tak ada jawaban.
Laut Nusantara tiba-tiba dingin, ikan terdiam, nyiur menunduk.
Anak laut itu melejit jadi matahari. Membumbung menyebar sinarnya, melelehkan bedil yang merenggut raganya. Jiwa-nya tetap hidup!
Bergemuruh di dalam dada anak negeri yang menolak bersekutu dengan kebohongan dan kepalsuan."

Demikian sepenggal puisi yang dibacakan Syarif penuh emosi.

Puisi 'Duka Anak Laut' ditulis sendiri oleh Syarif untuk mengenang La Randi, seorang mahasiswa Universitas Haluoleo yang meninggal dunia dalam demo ricuh di depan Gedung DPRD Kendari Gedung DPRD Kendari, Sulawesi Tenggara pada 26 September 2019 lalu.

Saat itu, para mahasiswa di sejumlah daerah, termasuk Kendari menggelar aksi demonstrasi #ReformasiDikorupsi untuk menolak revisi UU KPK dan sejumlah RUU lainnya. Randi diketahui tewas terkena peluru aparat kepolisian.

Syarif mengaku menulis puisi tersebut di gawainya pada tengah malam setelah mendengar musibah yang dialami Randi dan menelepon langsung Nasrifa, ibu dari almarhum Randi. La Sali yang disebut dalam puisinya merupakan ayah dari almarhum Randi.

"Saya bikin (puisi) itu tengah malam. Jam 2 pagi malah karena saya tidak bisa tidur. Itu setelah saya telepon ibunya Randi," ungkapnya.

Syarif mengungkapkan, selama empat tahun menjabat sebagai Komisioner Lembaga Antikorupsi, revisi UU KPK merupakan momen paling berat. Syarif merasa hidupnya berada dalam titik paling bawah. Hal ini lantaran revisi yang menurut sejumlah kalangan melemahkan pemberantasan korupsi itu bergulir begitu cepat.

Syarif bersama pimpinan KPK jilid IV lainnya sebagai pelaksana UU telah berupaya meminta bertemu dan berdialog dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun, tak mendapat respons positif. Hingga perubahan UU KPK disahkan, Syarif Cs tak mendapat kesempatan untuk menyuarakan pendapat mereka.

"Itu yang membuat saya betul-betul ya susah. Seperti menabrak tembok begitu. Ketika mau bertemu pimpinan negara, tiga kali dijadwalkan tiga kali juga dibatalkan. Sehingga sampai diketok pun UU itu kita tidak tahu," katanya.

Mahasiswa di berbagai daerah pun menyuarakan penolakan mereka atas revisi UU KPK. Demo yang kerap berujung kericuhan itu memakan korban jiwa. Hingga pada malam itu, Syarif mendengar kabar meninggalnya Randi. Batinnya semakin terperosok saat mengetahui tak hanya Randi yang gugur.

Seorang mahasiswa Universitas Haluoleo lainnya, Yusuf Kardawi juga meninggal dunia dalam kericuhan di depan Gedung DPRD Kendari. Sementara dalam demonstrasi di Jakarta, Bagus Putra Mahendra (15), Maulana Suryadi (23) Akbar Alamsyah (19) turut menjadi korban meninggal dunia.

KPK mengenang para korban tersebut dengan mengabadikan nama mereka sebagai nama sejumlah ruangan di Gedung ACLC.

Syarif bersama peneliti ICW, Wana Alamsyah; dan Direktur Eksekutif Amnesty Internasional, Usman Hamid serta perwakilan keluarga korban kemudian membuka tirai sebagai penanda resminya nama Randi dan Yusuf sebagai nama auditorium Gedung ACLC.

Sementara nama Bagus, Maulana Suryadi dan Akbar Alamsyah menjadi nama ruangan di lantai 2 Gedung ACLC.

Syarif mengatakan, KPK lahir dengan darah dan air mata. Untuk itu, memperjuangkan eksistensi KPK dan memberantas korupsi tidaklah mudah. Semenjak kehadirannya hingga saat ini, KPK kerap diserang dengan berbagai bentuk.

"KPK lahir itu bukan sebagai anak kesayangan. Dia lahir karena terpaksa dibutuhkan oleh Negeri, oleh manusia Indonesia. Sehingga akhirnya para politisi setuju karena itu kehendak bangsa. Dari awal prosesnya tidak gampang dan serangan itu selalu ada," ungkap Syarif.

Usman Hamid menyatakan, Randi, Yusuf, Bagus, Maulana Suryadi dan Akbar Alamsyah merupakan pahlawan pembela reformasi. Hal ini lantaran mereka membela KPK yang merupakan anak kandung reformasi.

"Kita berikan semacam apresiasi hari ini mungkin satu hal, yaitu membela KPK. KPK dilahirkan oleh gerakan reformasi ketika Randi Yusuf sampai Akbar bergerak, mereka mengerahkan segala daya upaya melalui kekuatan mobilisasi untuk memastikan KPK tidak dilemahkan," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan