Jumlah Penyalahgunaan Narkotika Jenis Baru Meningkat

Jumlah Penyalahgunaan Narkotika Jenis Baru Meningkat
Kepala Badan Narkotika Nasional Komjen Pol Heru Winarko saat menyampikan rilis akhir tahun BNN di Jakarta, Jumat (20/12/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Erwin C Sihombing / JAS Sabtu, 21 Desember 2019 | 08:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kendati Indonesia mengalami penurunan jumlah pengguna narkotika, bukan berarti peredaran narkotika telah berhasil ditekan. Pasalnya, terdapat pula kenaikan persentase penyalahgunaan narkotika jenis baru yang belum diatur dalam undang-undang.

Kepala BNN Heru Winarko menuturkan, jumlah pengguna narkotika di Indonesia dalam kurun waktu 2011-2019 sejatinya mengalami penurunan. Prevalensi tahun 2011 sebesar 2,23 persen, tahun 2014 turun menjadi 2,18 persen.

Selanjutnya di tahun 2017, prevalensi berada pada kisaran 1,77 persen, namun di tahun 2019 meningkat menjadi 1,80 persen, yang disebabkan masuknya barang narkoba jenis baru.

"Pada tahun 2019 terjadi peningkatan sebesar 0,03 persen, di mana kenaikan ini disebabkan oleh adanya peningkatan penyalahgunaan narkotika jenis baru," kata Heru, di Jakarta, Jumat (20/12).

Narkotika jenis baru (New Psychoactive Substances/NPS) berbentuk sintesis yang meniru jenis narkotika yang telah beredar dan dinyatakan terlarang dalam UU Narkotika, misalnya kokain sintetis, ganja sintetis, ekstasi herbal, atau N-methoxybenzy.

Berkaca pada situasi tersebut, lanjut Heru, meskipun jumlah pemakai yang tidak lagi mengonsumsi narkotika sekarang ini menurun sebesar 0,6 persen dari 4,53 juta jiwa (2,40 persen) menjadi 3,41 juta jiwa (1,80 persen), bukan berarti harus pengawasan mengendur.

Pemberantasan dan pencegahan narkoba masih menjadi persoalan yang tidak enteng. Seiring berkembangnya zaman, cara-cara baru digunakan untuk memasok narkoba yang bisa masuk ke berbagai kalangan.

Untuk mengatasinya dibutuhkan kerja sama bukan hanya dari instansi terkait tetapi seluruh elemen masyarakat dalam memberantas "barang haram" tersebut. Terlebih, berdasarkan data United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), sebanyak 271 juta jiwa di seluruh dunia atau 5,5 persen dari total populasi penduduk dunia dengan rentang usia 15-64 tahun telah mengonsumsi narkoba.

"BNN mencatat bahwa persoalan narkotika di Indonesia masih dalam kondisi yang memerlukan perhatian dan kewaspadaan tinggi secara terus menerus dari seluruh elemen bangsa Indonesia," tegas Heru.

Sepanjang 2019 ini, lanjut Heru, pihaknya telah mengungkap 33.371 kasus narkotika yang merupakan hasil kerja sama BNN dengan Polri, TNI, Bea Cukai, dan Imigrasi. Hal ini menunjukan kasus-kasus narkotika masih menjadi persoalan serius bangsa ini.

Di pengujung tahun 2019 ini, BNN telah memusnahkan barang bukti narkotika jenis paracetamol, caffeine, carisoprodol (PCC) sebanyak 1.648.744 butir, 56.921 gram serbuk PCC dan 2.015 butir pil eksktasi dan 57.882,06 gram ganja.

Tindakan tersebut merupakan bagian dari menekan peredaran narkotika yang bisa menyasar berbagai kalangan masyarakat. Barang bukti tersebut didapatkan BNN setelah mengungkap pabrik narkoba dan penyelundupannya dari Prancis ke Indonesia.

"Pengungkapan kasus ini menyeret 5 orang tersangka yang berhasil diamankan di sejumlah TKP yang berbeda, antara lain di sebuah rumah makan di kawasan Kretek Gombong, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah dan TKP lainnya di Jalan Pantimura 4 Kelurahan Kroya, Kota Cilacap Jawa Tengah," ungkap Heru.



Sumber: Suara Pembaruan