Ratna Sarumpaet Bebas

Ratna Sarumpaet Bebas
Terdakwa penyebaran berita bohong Ratna Sarumpaet menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa 28 Mei 2019. (Foto: SP/Joanito De Saojoao)
Bayu Marhaenjati / WBP Kamis, 26 Desember 2019 | 13:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com-Aktivisi Ratna Sarumpaet dikabarkan bisa menghirup udara segar hari ini setelah permohonan pembebasan bersyaratnya diterima Kementerian Hukum dan HAM (Kemkumham).

"Pada hari ini, tangal 26 Desember 2019, ibu Ratna Sarumpaet secara resmi bebas dan keluar dari Lapas Perempuan Kelas II A Pondok Bambu," ujar Desmihardi selaku kuasa hukum Ratna, Kamis (26/12/2019).

Dikatakan Desmihardi, pembebasan ini diberikan setelah permohonan Pembebasan Bersyarat (PB) yang diajukan kliennya diterima dan dikabulkan Kemkumham. "Ibu Ratna mendapatkan remisi Idulfitri dan 17 Agustus yang diberikan oleh Menkumham. Sehingga dari total dua tahun hukuman penjara, ibu Ratna menjalani masa hukuman selama lebih kurang 15 bulan, terhitung sejak oktober 2018," ungkap Desmihardi.

Penahanan Ratna Sarumpaet Dipindah ke Lapas Pondok Bambu

Desmihardi menyampaikan, rencananya Ratna akan berkumpul bersama keluarga setelah bebas. "Rencananya sehabis menjalani masa hukuman, ibu Ratna akan menghabiskan waktunya untuk berkumpul bersama anak-anak dan cucunya," kata Desmihardi.

Banding Ditolak, Hukuman Ratna Sarumpaet Tidak Berubah

Berdasarkan Pasal 14 ayat (1) huruf K Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, setiap narapidana berhak mendapatkan pembebasan bersyarat. Sementara, pembebasan bersyarat adalah bebasnya narapidana setelah menjalani sekurang-kurangnya dua pertiga masa pidananya dengan ketentuan dua pertiga tersebut kurang dari 9 bulan.

Sebelumnya diketahui, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis Ratna Sarumpaet 2 tahun penjara karena terbukti bersalah menyebarkan berita bohong yang menimbulkan keonaran sesuai dengan Pasal 14 ayat (1) Undang Undang nomor 1 Tahun 1946. Vonis ini lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), selama 6 tahun penjara.

Pasca-putusan, Ratna melalui penasihat hukumnya kemudian mengambil langkah banding ke tingkat Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Memori banding itu terdaftar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan Nomor 63/Akta.pid/2019/PN.Jkt.Sel.

Namun, upaya banding Ratna menemukan jalan buntu. Majelis hakim Pengadilan Tinggi DKI Jakarta pada amar putusannya menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang menjatuhkan hukuman 2 tahun penjara. Artinya, Ratna tetap dihukum 2 tahun penjara dikurangi masa penahanan.



Sumber: BeritaSatu.com