Busyro Ragukan Motif Penyerang Novel untuk Balas Dendam

Busyro Ragukan Motif Penyerang Novel untuk Balas Dendam
Busyro Muqoddas (Foto: Antara/Regina Safri)
Fuska Sani Evani / JAS Selasa, 31 Desember 2019 | 09:35 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas mengaku tidak percaya bahwa alasan kedua tersangka penyerangan terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan, RB dan RM hanya bermotiv balas dendam.

Kepada media di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (30/12/2019), Busyro Muqoddas menyatakan alasan kedua pelaku, yang ditangkap pada Kamis (26/12/2018), mengada-ada.

"Kalau masalah sentimen pribadi mengapa tidak dari dulu atau kenapa baru sekarang melakukan pengakuan. Apalagi yang ditangkap polisi aktif," ujar ungkap Busyro usai diskusi “Catatan Kritis Bidang Ekonomi, Sosial, Politik dan Hukum 2018".

Menurut Busyro, Polisi harus transparan dalam menyampaikan fakta aktor dalam kasus penyiraman air keras pada Novel. “Jangan sampai, kasus ini hanya jadi etalase politik dari pihak mana pun,” ujar Busyro.

Menurut Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum dan HAM tersebut, banyak yang menyangsikan kesamaan wajah tersangka yang identitasnya disinyalir berbeda dengan pelaku sebelumnya.

"Apakah tersangka yang muncul saat ini adalah pelaku yang riil, itu kita lihat proses hukumnya saja," ujar Busyro.

Dengan melihat proses hukumnya, lanjutnya, dalam proses pengadilan, nantinya pelaku wajib melakukan reka ulang kejadian. Dengan demikian, semua pihak harus melakukan pencermatan dalam proses reka ulang tersebut, sehingga bisa diketahui kejujuran dari proses penangkapan pelaku.

"Kejaksaan sampai pengadilan yang nanti berwenang membuka proses ini secara terbuka pada publik, termasuk advokat independen di luar yang ditunjuk kepolisian, juga diperlukan dan diharapkan bisa membuka misteri pelaku yang sesungguhnya,” tegasnya.

Busyro Muqoddas mengatakan, upaya percobaan pembunuhan maupun penganiayaan terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan sudah dilakukan sebanyak enam sampai tujuh kali.

Salah satunya yang pernah mengalaminya ialah seorang penyidik yang wajahnya mirip Novel. Penyidik tersebut juga berasal dari unsur kepolisian, namun pelaku penabrak salah sasaran.

Penyidik KPK itu ditabrak dengan sebuah mobil hingga salah satu kakinya patah.

Dari rentetan kasus-kasus tersebut, Busyro yakin bahwa upaya percobaan pembunuhan terhadap Novel justru menyangkut perannya dalam membongkar kasus korupsi skalanya besar bersama penyidik lainnya, Menurutnya, tidak logis jika motif penyiraman air keras atas Novel hanya karena kebencian pribadi.

Dikatakan, pada 11 April 2017 sudah ada pernyataan bersama agar Presiden Jokowi membuat Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang terdiri dari unsur kepolisian, KPK, Komnas HAM, dan masyarakat sipil. Namun tim TGPF yang sudah dibentuk tidak menemukan hasil yang signifikan.



Sumber: Suara Pembaruan