Eks Kadinkes Banten Beberkan Rp 700 Juta yang Diterima Rano Karno

Eks Kadinkes Banten Beberkan Rp 700 Juta yang Diterima Rano Karno
Rano Karno (tengah) saat mengunjungi warga di Kabupaten Serang, Jumat 23 Desember 2016. (Foto: PR)
Fana Suparman / WBP Senin, 6 Januari 2020 | 15:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Banten, Djadja Buddy Suhardja mengungkap mengenai aliran dana sebesar Rp 700 juta yang diduga diterima mantan Wakil Gubernur Banten Rano Karno terkait pengadaan alat kedokteran rumah sakit rujukan Provinsi Banten tahun anggaran 2012.
Hal ini disampaikan Djadja saat bersaksi dalam sidang perkara dugaan korupsi dan pencucian uang dengan terdakwa Komisaris Utama PT Balipasific Pragama, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (6/1/2020).

"Oh pernah (berikan uang ke Rano Karno), Pak. Karena, Pak Rano bilang sudah ke Pak Wawan. Rp 700 jutaan lah Pak," kata Djadja Buddy Suhardja dalam kesaksiannya.

Djadja mengatakan, uang ratusan juta itu diberikan kepada Rano selaku wakil gubernur Banten secara bertahap. Secara rinci, Djadja menyebut uang itu diberikan dalam lima tahap. "Sampai lima kali nggak salah. Ada saya langsung ke rumahnya dan kantornya," kata Djadja Buddy Suhardja.

Korupsi Alkes, Rano Karno Disebut Kecipratan Rp 700 Juta

Awalnya, jaksa KPK mengonfirmasi berita acara pemeriksaan (BAP) Djadja. Dalam BAP, Djaja mengaku menyerahkan uang kepada sejumlah orang termasuk Rano Karno. Djadja menyebut pemberian kepada Rano sebesar 0,5 persen dari nilai proyek di Dinas Kesehatan Banten. "Kalau tidak salah satu tahun bulan berbeda. Tahun 2012 katanya Pak Rano sudah ketemu Pak Wawan di Ritz Charlton," tutur Djadja Buddy Suhardja saat dikonfirmasi Jaksa.

Wawan Didakwa Rugikan Negara Rp 94,2 Miliar

Dalam BAP, Djadja menjelaskan bahwa ia beberapa kali dihubungi oleh Yadi, yang merupakan ajudan Rano Karno. Permintaan uang oleh Yadi kemudian ditindaklanjuti oleh Djadja. Dikatakan, dalam beberapa kesempatan, Djadja memberikan uang dengan masing-masing pemberian sebesar Rp 50 juta. Selain itu, terdapat pemberian sebesar Rp 150 juta dan Rp 350 juta, yang total seluruhnya lebih dari Rp 700 juta. "Iya pak (setiap pemberian dihubungi Yadi). Saya selalu bersama-sama (saat pemberian uang), sama ajudan dan sopir," tutur Djadja Buddy Suhardja.

Pemberian uang kepada Rano Karno sebelumnya tercantum dalam surat dakwaan terhadap Wawan. Dalam dakwaan itu disebutkan, Rano Karno kecipratan uang sekitar Rp 700 juta dari proyek pengadaan alat kedokteran rumah sakit rujukan Provinsi Banten pada Dinas Kesehatan Provinsi Banten Tahun Anggaran (TA) 2012.

Jaksa membeberkan, uang yang diterima Rano yang juga mantan Gubernur Banten tersebut berasal dari Direktur PT Java Medika, Yuni Astuti. Dalam dakwaan, Yuni merupakan salah satu rekanan yang mengerjakan proyek pengadaan alat kedokteran di Provinsi Banten. Yuni diduga ikut kongkalingkong dalam proses pengerjaan proyek tersebut. Dari pengerjaan proyek tersebut, Yuni mengantongi uang sekitar Rp 61,2 miliar.

Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp 30,4 miliar dipergunakan Yuni untuk pembelian alat kesehatan dan untuk biaya pinjaman mencapai Rp 222,8 juta. Sedangkan sisanya diberikan diberikan kepada sejumlah pihak, termasuk Rano Karno atas perintah Wawan.

Diketahui, Wawan didakwa telah melakukan tindak pidana korupsi dengan mengatur proses pengusulan anggaran Dinas Kesehatan Provinsi Banten pada APBD TA 2012 dan APBD-P TA 2012 dan mengarahkan pelaksanaan Pengadaan Alat Kedokteran Rumah Sakit Rujukan Provinsi Banten pada Dinas Kesehatan Provinsi Banten TA 2012 serta mengatur dan mengarahkan pelaksanaan Pengadaan Alkes Kedokteran Umum Puskesmas Kota Tangerang Selatan APBD-P TA 2012.

Atas tindak pidana tersebut, Wawan didakwa menguntungkan diri sendiri orang lain dan korupsi yang merugikan keuangan negara sekitar Rp 94,2 miliar. Selain itu, Wawan juga didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dari hasil korupsinya dengan nilai mencapai lebih dari Rp 500 miliar.



Sumber: Suara Pembaruan