Novel Pastikan Penyerangan kepada Dirinya Bukan Terkait Urusan Pribadi

Novel Pastikan Penyerangan kepada Dirinya Bukan Terkait Urusan Pribadi
Penyidik Senior KPK Novel Baswedan (tengah) berjalan meninggalkan ruang penyidikan usai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (6/1/2020). ( Foto: ANTARA FOTO / Galih Pradipta )
Fana Suparman / JAS Selasa, 7 Januari 2020 | 07:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -Novel Baswedan, menegaskan kasus penyiraman terhadap dirinya bukan urusan personal, melainkan terkait dengan tugas pemberantasan korupsi yang dilakukannya sebagai penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Saya pastikan tidak mungkin. Saya tidak kenal, tidak pernah bertemu, tidak terkait apapun dengan orang yang disebut sekarang ini sebagai tersangka. Tentunya nggak masuk akal apabila itu adalah urusan personal. Dan, saya pastikan dan hampir bisa memastikan dengan fakta-fakta yang saya sampaikan dalam proses pemeriksaan tadi bahwa ini terkait dengan tugas-tugas saya dalam rangka memberantas korupsi," ujar Novel usai dimintai keterangannya sebagai korban, di Mapolda Metro Jaya, Senin (6/1/2020).

Novel menegaskan, dirinya meyakini kalau kasus penyiraman terhadap dirinya berkaitan dengan tugasnya memberantas korupsi.

"Saya pastikan, saya hampir bisa memastikan dengan fakta-fakta yang sudah saya sampaikan dipemeriksaan tadi bahwa ini terkait dengan tugas-tugas saya dalam upaya memberantas korupsi di KPK. Dan, ada beberapa hal terkait yang lain-lain saya sampaikan. Tentunya, keterangan yang saya sampaikan ke penyidik adalah konsumsi penyidikan yang berlangsung saat ini, dan saya belum bisa sampaikan kepada rekan-rekan media. Tapi saya bisa meyakini dan hampir bisa memastikan tidak mungkin terkait urusan pribadi," ungkapnya.

Novel menyampaikan, keyakinannya bukan tanpa dasar, namun berdasarkan hasil investigasi mendalam baik yang dilakukan Komnas HAM maupun pihak lainnya.

Baca juga: Novel Baswedan Tidak Kenal Pelaku Penyiraman

"Ya tentunya banyak yang melakukan pemeriksaan itu, investigasi mendalam, baik dilakukan oleh Komnas HAM, tim gabungan yang dibentuk oleh Polri juga melakukan dan ada beberapa rekan-rekan kuasa hukum juga melakukan pendalaman soal itu. Dan semuanya mendapat fakta hampir serupa, kecuali ada hal-hal yang sedikit agak bias ketika berbicara seolah-olah ini karena masalah dengan saya, kan bias," katanya.

Menurut Novel, pada pokoknya ada dua hal penting. Pertama terkait dengan tugas-tugasnya melakukan penyidikan perkara korupsi dalam rangka melaksanakan tugas di KPK.

"Dan yang kedua, ini pelakunya bukan orang per orang yang berinisiatif sendiri, baik satu dua orang atau apapun, tapi suatu hal yang teroganisir. Oleh karena itu, pengungkapan ini menjadi penting untuk pengungkapan semuanya. Tapi saya ingin mengingatkan satu hal bahwa serangan kepada saya adalah bagian serangan-serangan lainnya kepada orang-orang KPK yang pernah disebut oleh rekan-rekan di KPK, lebih dari 10 kasus. Tentunya hal tersebut menggambarkan bahwa upaya-upaya serangan-serangan itu terkait tugas di KPK," jelasnya.

Perlu Tim Independen

Novel mengungkapkan, setiap upaya yang terorganisasi dalam melakukan serangan atau perlawanan kepada orang yang sedang melakukan tugas memberantas korupsi harus ditindak tegas.

"Tentunya pengungkapan itu akan lebih efektif apabila dilakukan oleh tim yang independen. Saya berkali-kali menyatakan itu. Termasuk juga upaya serangan terhadap orang-orang KPK, jangan sampai sekarang ini kan belum ada yang terungkap. Itu pun menurut saya akan sangat baik apabila diidentifikasi dengan tim yang independen. Sehingga kita tahu permasalahan-permasalahan itu kenapa sebabnya," tegasnya.

Baca juga: Ke Polda Metro Jaya, Novel Beri Keterangan sebagai Korban

"Kenapa itu jadi penting? Belakangan ini banyak bersebaran hoax ya, cerita-cerita yang tidak benar. Dan itu kemudian dikapitalisasi dan kemudian dibesar-besarkan dengan fakta-fakta yg memutarbalikan. Tentunya apabila itu diperiksa dengan tim gabungan yang independen, hal itu akan bisa diketahui siapa sih sebenarnya penjahat di balik itu," katanya.

Kedua, tambahnya, ke depan Indonesia perlu untuk melakukan penegakan hukum yang baik, transparan dalam memberantas korupsi yang maksimal. "Apabila kita tahu pola-pola begini dan bisa kita cegah itu akan sangat menguatkan proses kita ke depan," tandasnya.



Sumber: Suara Pembaruan