Banjir Bandang Lebak, Bareskrim Duga Akibat Pembalakan Liar

Banjir Bandang Lebak, Bareskrim Duga Akibat Pembalakan Liar
Seluas 245 hektare areal persawahan di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten terdampak banjir bandang dan longsor sehingga tanaman padi yang berusia rata-rata tujuh hari setelah tanam tertutup lumpur. ( Foto: Handout )
Farouk Arnaz / FMB Rabu, 8 Januari 2020 | 14:16 WIB

Jakarta, Beritasatu.com — Direktorat Tindak Pidana Tertentu Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia (Dit Tipiter Bareskrim Polri) mulai turun ke lokasi banjir bandang dan longsor di Sajira Kabupaten Lebak, Banten. Banjir diduga kuat akibat penambangan dan pembalakan liar di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

“Kita melakukan pengumpulan bahan keterangan (Pulbaket),” kata Dir. Tipiter Brigen Agung Budjjono saat dihubungi Beritasatu.com Rabu (8/1/2020).

Namun Agung mengakui hingga sejauh ini belum ada kesimpulan ada atau tidaknya unsur pidana dan siapa yang akan dibidik sebagai calon tersangka.

Kabareskrim Komjen Listyo Sigit mengatakan jika pihaknya menurunkan satgas ke lokasi banjir bandang dan longsor di Sajira, Kabupaten Lebak, Banten.

“Kita turunkan gabungan ke Lebak hari ini. Ada Satgas Bareskrim yang gabung dengan Polda Banten, Polda Jabar, dan instansi terkait,” kata Listyo saat dihubungi Beritasatu.com, Rabu (8/1/2020).

Banjir Lebak juga menarik perhatian Presiden Joko Widodo. Orang nomor satu di Indonesia itu mendatangi lokasi banjir bandang di Lebak, Selasa (7/1/2020) kemarin.

Jokowi langsung menyambangi Pondok Pesantren La Tansa di Kampung Parakansantri, Desa Banjar Irigasi, Kecamatan Lebakgedong yang menjadi salah satu bangunan yang terdampak banjir bandang pada Rabu, 1 Januari 2020.

Saat itu Jokowi meminta Gubernur Banten Wahidin Halim dan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya untuk segera menghentikan aktivitas tambang di TNGHS, terutama di wilayah Kabupaten Lebak.



Sumber: BeritaSatu.com