Harun Masiku Kabur Sebelum OTT, KPK Bantah Kecolongan

Harun Masiku Kabur Sebelum OTT, KPK Bantah Kecolongan
Ilustrasi Komisi Pemberantasan Korupsi ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Fana Suparman / YUD Senin, 13 Januari 2020 | 22:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membantah kecolongan dengan kaburnya caleg PDIP, Harun Masiku ke Singapura. Diketahui, Harun yang telah ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap kepada Komisioner KPU, Wahyu Setiawan telah meninggalkan Indonesia dengan menggunakan pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta sejak 6 Januari 2020. Dengan demikian, Harun telah berada di Negeri Jiran tersebut dua hari sebelum KPK melancarkan operasi tangkap tangan (OTT) dan menangkap Wahyu serta tujuh orang lainnya pada Rabu (8/1/2020).

"Kami tidak melihatnya dari sisi itu (kecolongan)," kata Plt Jubir KPK, Ali Fikri di Gedung KPK, Jakarta, Senin (13/1/2020).

Ali mengatakan, dalam rangkaian OTT, KPK tidak hanya mengandalkan penyadapan. Terdapat sejumlah kegiatan dan strategi lain yang dilakukan tim KPK. Ali mengklaim, kaburnya Harun ke Singapura telah diantisipasi oleh KPK sebelumnya.

"Tentu ada pertimbangan-pertimbangan strategis dari penyidik bagaimana kemudian bisa menyikapi adanya hal-hal itu. Kami sudah mengantisipasinya," katanya.

Meski demikian, Ali Fikri mengakui baru mengetahui keberadan Harun di Singapura dari pernyataan Ditjen Imigrasi hari ini. KPK bakal berkoordinasi lebih lanjut dengan Ditjen Imigrasi mengenai informasi tersebut.

"Kita tahu dari Humas (Ditjen) Imigrasi telah menyampaikan bahwa keberadaan dari tersangka HAR (Harun Masiku) tidak berada di Indonesia. Tentunya dari kemarin kami sudah koordinasi dengan Imigrasi dan aparat penegak hukum lain. Dan hari ini kita mendapat informasinya dari Humas Imigrasi. Tentu nanti kita akan berkoordinasi lebih lanjut atas informasi yang telah disampaikan, selanjutnya kami akan memastikan terlebih dahulu keberadaan yang bersangkutan," katanya.

Ali memastikan KPK akan terus memburu Harun, meski disebut telah berada di Singapura. Setelah memastikan keberadaan Harun di luar negeri, KPK akan menjalin kerja sama dengan kepolisian maupun Kementerian Luar Negeri untuk menangkap Harun dan membawanya kembali ke Indonesia.

"Tentu kami akan bekerja sama dengan lembaga yang ada di luar negeri, Kementerian Luar Negeri dan melakukan penangkapan, untuk yang bersangkutan dibawa ke KPK," katanya.

Dikonfirmasi secara terpisah, Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron menyatakan pihaknya akan bekerja sama dengan instansi terkait untuk memburu Harun. Termasuk berkoordinasi dengan Kepolisian untuk meminta bantuan Interpol menangkap Harun jika benar berada di luar negeri.

"Kami akan segera berkoordinasi dengan Polri untuk meminta bantuan NCB Interpol," kata Ghufron saat dikonfirmasi.

Ghufron meyakini, pihaknya bersama Kepolisian dan Interpol dapat membekuk Harun. "Saya kira untuk penjahat koruptor tidak akan sulit ditemukan," katanya.

Ghufron menyatakan, KPK akan segera menetapkan Harun sebagai buronan dengan memasukkan namanya dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Upaya ini dilakukan lantaran Harun tak kunjung menyerahkan diri usai ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap Wahyu Setiawan, pada Kamis (9/1/2020). KPK hingga saat ini masih memburu Harun yang lolos dari operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (8/1/2020) lalu.

"Kami telah mengimbau kepada yang bersangkutan untuk segera menghadap ke KPK, kalaupun tidak (kooperatif) nanti kita akan tetap cari dan kita masukkan dalam DPO," kata Ghufron.

Berdasarkan informasi yang diperolehnya, Ghufron mengungkapkan, Harun Masiku sedang berada di luar negeri saat tim KPK melancarkan operasi senyap. Namun di negara mana Harun berada, Ghufron belum bisa membeberkan. Saat ini, kata Ghufron, pihaknya terus berkoordinasi dengan Ditjen Imigrasi Kemkumham untuk penanganan lebih lanjut.

"Dengan imigrasi kita sudah koordinasi. Info yang kami terima malah memang sejak sebelum adanya tangkap tangan, yang bersangkutan sedang di luar negeri," katanya.

Sementara, Ditjen Imigrasi menyebut Harun meninggalkan Indonesia pada 6 Januari 2020. Harun terbang ke Singapura melalui Bandara Soekarno-Hatta.

"Yang bersangkutan tercatat keluar Indonesia tanggal 6 Januari ke Singapura," kata Kabag Humas dan Umum Ditjen Imigrasi Arvin Gumilang saat dikonfirmasi Senin (13/1/2020).

Arvin mengatakan berdasarkan data Imigrasi, Harun belum kembali ke Indonesia. Harun diduga masih berada di Singapura sejak pekan lalu. Hingga saat ini, Arvin menyatakan, KPK juga belum mengirimkan surat permintaan untuk mencegah Harun maupun pihak terkait lainnya bepergian ke luar negeri.

"Kalau permintaan secara administrasi untuk pencegahannya belum kami terima," katanya.

Dalam kasus ini, KPK menyangka Harun bersama tersangka lainnya Saeful telah menyuap Wahyu melalui mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina. Suap dengan total sekitar Rp 900 juta itu diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia. Tiga dari empat tersangka kasus ini telah mendekam di sel tahanan. Sementara, tersangka Harun Masiku masih diburu tim KPK.



Sumber: Suara Pembaruan