Besok, Rekonstruksi Pembunuhan Hakim Jamaluddin Tahap 2 Digelar

Besok, Rekonstruksi Pembunuhan Hakim Jamaluddin Tahap 2 Digelar
Ilustrasi jenazah. ( Foto: Istimewa )
Arnold H Sianturi / WBP Rabu, 15 Januari 2020 | 21:49 WIB

Medan, Beritasatu.com - Rekonstruksi pembunuhan hakim Jamaluddin oleh istrinya, Zuraidah Hanum, bersama dua eksekutor, eksekutor pembunuhan hakim Jamaluddin, Jefri Pratama dan Reza Fahlevi, rencananya kembali digelar, Kamis (16/1/2020).

"Rekonstruksi tahap dua ini merupakan adegan pembunuhan, sehingga ketiga tersangka juga dibawa untuk memperagakan adegan pembunuhan," ujar Kepala Sub Penerangan Masyarakat (Penmas) Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan di Medan, Rabu (15/1/2020).

Nainggolan menjelaskan, saat rekonstruksi pembunuhan pertama dengan agenda rencana pembunuhan, sedikitnya ada lima lokasi sebagai tempat pertemuan. "Untuk rekonstruksi tahap dua dilakukan di kediaman korban di Komplek Perumahan Royal Monaco, kawasan Medan Johor. Rumah korban merupakan lokasi pembunuhan oleh Jefri Pratama, Reza Fahlevi yang didalangi oleh istri Jamaluddin, Zuraidah," kata AKBP MP Nainggolan.

Setelah di kediaman korban, rekonstruksi pembuangan jenazah korban dilakukan di lokasi penemuan di sebuah jurang di Dusun II Namo Bintang, Desa Suka Dame, Kecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut).

"Setelah rekonstruksi ini selesai, maka penyidik tinggal merampungkan berkas acara pemeriksaan (BAP) kasus pembunuhan hakim Jamaluddin. Kita mengupayakan berkas ini secepatnya dilimpahkan ke kejaksaan untuk ditindaklanjuti," jelas AKBP MP Nainggolan.

Adapun rekonstruksi pembunuhan ini diawali dengan Zuraidah Hanum membuka pagar rumah, kemudian pergi dan balik lagi membawa kedua eksekutor ke rumahnya di Jalan Aswad, Komplek Perumahan Royal Monaco, Blok B No 22 Medan Johor. Seperti biasanya, Jamaluddin belum pulang ke rumah di waktu yang disebutkan.

Setelah itu, Zuraidah Hanum menyembunyikan Jefri Pratama dan Reza Fahlevi di lantai 3 rumahnya. Sekitar pukul 20.00 WIB, Zuraidah Hanum naik ke lantai 3 membawakan air mineral. Setelah turun dan masuk kamar tidur, Zuraidah kembali naik mengecek kedua eksekutor, sekitar pukul 21.00 WIB.

Sekitar pukul 22.00 WIB, Jamaluddin pulang ke rumahnya. Setelah membersihkan diri, Jamaluddin kemudian tidur di kamarnya yang berada di lantai 2. Jamaluddin tidur tanpa mengenakan pakaian dan hanya menggunakan sarung. Di tengah mereka, ada anak mereka yang sudah tertidur bernama Kanza (7).

Pada Jumat (29/11/2019) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, Zuraidah naik lagi ke lantai 3 rumahnya, memberikan informasi bahwa suaminya sudah tertidur nyenyak. Jefri dan Reza mengikuti langkah Zuraidah menuju kamar tidur.

Reza mengambil kain dari pinggir kasur korban, kemudian berjalan dan berdiri tepat di hadapan kepala Jamaluddin dengan kedua tangan sudah memegang kain untuk melakukan pembekapan di bagian hidung dan mulut Jamaluddin.

Sementara itu, Jefri naik ke atas kasur, berdiri tepat di atas korban dan memegang kedua tangan korban di samping kanan dan kiri badan korban. Zuraida berbaring di samping kiri korban sambil menindih kaki korban dengan kedua kakinya dan menenangkan Kanza yang terbangun untuk tidur kembali pada saat eksekusi berlangsung.

Setelah korban tidak bergerak, Jefri dan Reza mengecek bagian perut apakah ada pergerakan tanda bernapas. Setelah yakin korban sudah meninggal dunia, Zuraida memerintah Jefri dan Reza untuk kembali menunggu di lantai 3. Sekitar pukul 03.00 WIB, Zuraida naik ke lantai 3 memanggil Jefri dan Reza untuk turun ke kamar korban.

Ketiganya kemudian berdiskusi untuk menentukan lokasi pembuangan mayat dan akhirnya disepakati dibuang di Berastagi. Mereka memakaikan baju dan perlengkapan korban. Jefri dan Reza memakaikan baju lengan panjang olahraga PN Medan warna hijau dengan posisi didudukkan, sedangkan Zuraida memakaikan celana panjang hijau olahraga PN Medan. Reza memakaikan kaos kaki korban.

Jefri, Reza, dan Zuraida mengangkat mayat korban turun ke lantai 1 dan memasukkan ke dalam mobil korban Toyota Land Cruiser Prado BK 77 HD melewati pintu kanan belakang dengan posisi berbaring di kursi baris kedua dengan kepala di sebelah kanan. Kemudian, Jefri menyetir mobil korban dan Reza duduk di sebelah kiri depan sementara Zuraida membuka dan menutup pintu garasi.

Adapun rute jalan yang dilalui setelah keluar dari rumah korban dengan belok ke kanan menuju Jalan Aswad, dan belok kiri menuju Jalan Eka Warni, belok ke kanan menuju Jalan Karya Wisata, belok ke kiri menuju Jalan AH Nasution Medan, Fly Over Jalan Jamin Ginting dan menuju Jalan Ngumban Surbakti Medan.

Mereka kemudian mengambil belokan ke kiri melintasi Simpang Pemda dan menuju Jalan Setiabudi, Jalan Stella Raya Medan. Mereka sempat berhenti, Reza turun mengambil sepeda motor Honda Vario hitam BK 5898 AET, yang sudah disiapkan dan membuntuti kendaraan yang dikemudikan Jefri Pratama. Mereka meluncur menuju arah Berastagi, Kabupaten Tanah Karo.

Kali ini, Reza yang mengendarai sepeda motor berada di depan mobil selama berkendara. Selama perjalanan, Reza melihat ada jurang. Jefri kemudian menghentikan mobil. Mereka kemudian membuang mobil korban dalam kondisi menyala. Mobil Land Cruiser Prado BK 77 HD berjalan secara automatis masuk ke dalam jurang kebun sawit.

Jefri langsung naik ke sepeda motor Reza, karena ketakutan apabila ada yang melihat kejadian tersebut. Jefri dan Reza langsung bergerak meninggalkan lokasi tanpa melihat bagaimana kondisi mobil korban. Sore hari sekitar pukul 16.00 WIB, warga menemukan mobil di jurang. Saat itu, warga sedang menuju lokasi kebun sawit. Temuan itu dilaporkan kepada warga lain, kepala desa dan polisi. Belakangan diketahui, mayat di dalam mobil adalah hakim merangkap Humas PN Medan, Jamaluddin.



Sumber: Suara Pembaruan