Kasus Jiwasraya, Tim Kejagung Geledah Rumah di Jakarta Timur

Kasus Jiwasraya, Tim Kejagung Geledah Rumah di Jakarta Timur
Kejaksaan Agung (Kejagung) menyita sejumlah unit kendaraan mewah milik tersangka Jiwasraya, Kamis (16/1/2020). Barang mewah tersebut sudah terparkir dan terlingkar garis sita berlabel Kejaksaan Agung. ( Foto: Beritasatu TV )
Fana Suparman / Yeremia Sukoyo / MPA Kamis, 16 Januari 2020 | 21:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim Jaksa Penyidik Tipikor dan Tim Pelacakan Aset pada Jampidsus Kejaksaan Agung (Kejagung) menggeledah sebuah rumah di Jalan Kavling AL, Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (16/1/2020). Rumah tersebut menjadi tempat domisili mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan pada PT Asuransi Jiwasraya, Syahmirwan yang kini menyandang status tersangka kasus dugaan korupsi di PT Asuransi Jiwasraya.

"Ditenggarai terdapat beberapa barang atau benda yang diduga terkait dengan penyidikan dugaan tindak pidana korupsi dalam pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya (Persero)," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Hari Setiyono dalam keterangannya, Kamis (16/1/2020) malam.

Belum diketahui secara pasti barang atau benda yang disita Kejagung dari penggeledahan di rumah tersebut. Hal ini lantaran proses penggeledahan yang dimulai sekitar pukul 16.00 WIB itu masih berlangsung hingga berita ini dibuat.

"Hingga saat ini tim Jaksa Penyidik bersama dengan tim Pelacakan Aset sedang bekerja menyisir atau menggeledah di tempat-tempat yang diduga digunakan untuk menempatkan hasil tindak pidana korupsi, yang nantinya dapat dijadikan barang bukti sekaligus yang bernilai ekonomis akan dapat digunakan untuk mengembalikan kerugian keuangan negara," katanya.

Diketahui, Kejagung menetapkan lima orang sebagai tersangka kasus dugaan korupsi di PT Asuransi Jiwasraya. Lima tersangka itu, yakni Komisaris Utama PT Hanson International, Benny Tjokrosaputro; Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera (Tram), Heru Hidayat serta mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya Hary Prasetyo. Kemudian mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya, Hendrisman Rahim dan mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan pada PT Asuransi Jiwasraya Syahmirwan. Kelima tersangka telah ditahan di Rutan berbeda selama 20 hari ke depan sejak Selasa 14 Januari 2020.

Penahanan Benny dititipkan di Rutan KPK, sementara Heru Hidayat ditahan di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung. Kemudian Hary Prasetyo ditahan di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Hendrisman Rahim ditahan di Pomdam Jaya Guntur dan Syahmirwan ditahan di Rutan Cipinang.

Dalam penyidikan kasus dugaan korupsi Jiwasraya, sejauh ini Kejagung telah memeriksa sedikitnya 98 orang saksi. Selain itu, Kejagung juga telah menggeledah lebih dari 13 obyek. Saat ini, Kejagung masih menunggu Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang sedang menghitung kerugian keuangan negara dalam kasus ini.

Jaksa Agung, ST Burhanuddin menyebut terdapat lebih dari 5.000 transaksi investasi di Jiwasraya periode 2009-2018 yang didalami tim penyidik. Burhanuddin menyebut PT Asuransi Jiwasraya gagal membayar klaim yang telah jatuh tempo. Hal itu juga tertuang dalam laporan hasil pemeriksaan BPK mengenai adanya tujuan tertentu atas pengelolaan bisnis asuransi, investasi, pendapatan, dan biaya operasional.

"Hal ini terlihat pada pelanggaran prinsip-prinsip kehati-hatian dengan berinvestasi yang dilakukan oleh PT Asuransi Jiwasraya yang telah banyak melakukan investasi pada aset-aset dengan risiko tinggi untuk mengejar high grade atau keuntungan tinggi," Burhanuddin.

Burhanuddin kemudian memaparkan investasi pada aset-aset dengan risiko tinggi yang dilakukan PT Asuransi Jiwasraya. Pertama, penempatan saham sebanyak 22,4% senilai Rp5,7 triliun dari aset finansial. Dari jumlah tersebut, 5% dana ditempatkan pada saham perusahaan dengan kinerja baik. "Sedangkan 95% dana ditempatkan di saham yang berkinerja buruk," katanya.

Kedua, penempatan reksadana sebanyak 59,1% senilai Rp14,9 triliun dari aset finansial. Dari jumlah tersebut, hanya 2% yang dikelola oleh manager investasi Indonesia dengan kinerja baik. “Dan 98% dikelola oleh manajer investasi dengan kinerja buruk," tegasnya.

Atas transaksi tersebut, PT Asuransi Jiwasraya hingga bulan agustus 2019 menanggung kerugian negara sebesar Rp13,7 triliun. Namun, angka itu, kata Burhanuddin, baru perkiraan awal.



Sumber: Suara Pembaruan