Polda Metro Bakar 5 Hektare Ladang Ganja di Hutan Mandailing

Polda Metro Bakar 5 Hektare Ladang Ganja di Hutan Mandailing
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana menunjukan barang bukti narkotika jenis ganja kering. ( Foto: BeritaSatu Photo / Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / YUD Rabu, 22 Januari 2020 | 14:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, menemukan 5 hektare ladang yang ditumbuhi tanaman ganja setinggi 150 hingga 200 sentimeter, di tengah hutan Desa Banjarlancat, Kecamatan Panyabungan Timur, Kabupaten Mandailing, Sumatera Utara, Sabtu (18/1/2020). Pohon ganja yang diperkirakan mencapai berat sekitar 60 ton itu, kemudian dimusnahkan dengan cara dibakar.

"Hasil penelusuran tim Polda Metro Jaya dibantu Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumetera Utara, ini cukup jauh. Dari Mandailing Natal, desa terakhir Banjarlancat itu kurang lebih tiga jam ditempuh menggunakan kendaraan. Kemudian, anggota jalan kaki 6 jam untuk mencapai lokasi, dan di sana ditemukan 5 hektar landang ganja," ujar Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana, di Mapolda Metro Jaya, Rabu (22/1/2020).

Dikatakan Nana, ladang ganja dengan ukuran tinggi pohon sekitar 150 hingga 200 sentimeter itu berada di tengah hutan pegunungan wilayah Mandailing.

"Ukurannya 150 sentimeter sampai 200 meter, sudah siap dipanen. Kalau kita perkirakan lima hektar, jumlahnya sekitar 60 ton ganja. Jadi cukup besar hasil pengungkapan ini," katanya.

Nana menyampaikan, tim penyidik melakukan pemusnahan ladang ganja itu dengan cara dirobohkan dan dibakar, di lokasi. Berdasarkan informasi, ladang itu sudah ada sejak 8 bulan yang lalu.

"Tetapi ada kita sisihkan untuk barang bukti. Sebagian kita titipkan di Polres Mandailing Natal. Sampai saat ini, kita masih koordinasikan dengan Polda Sumut (siapa pemilik lahan)," jelasnya.

Nana menyebutkan, barang bukti 60 ton ganja itu, bila dikonversi dalam bentuk rupiah mencapai Rp 60 miliar. "Jadi satu kilogram itu Rp 1 juta. Kalau 60 ton, sekitar Rp 60 miliar. Dari hasil pemeriksaan ini termasuk ganja yang bagus," katanya.

Hasil Pengembangan Kasus

Nana menuturkan, pengungkapan 5 hektar ladang ganja itu, merupakan hasil dari pengembangan kasus. Dalam kurun waktu dua bulan, Desember 2019-Januari 2020, Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Barat, Polres Metro Jakarta Selatan, Polres Bekasi Kabupaten, dan Polrestro Depok, berhasil membekuk 19 tersangka dan menyita 1.343 ton ganja kering.

"Hasil lidik dalam kurun dua bulan terakhir, kami menyita barang bukti dengan total 1.343 ton. Tersangka ada 19 orang, dan salah satunya kami lakukan tindakan tegas dan terukur (ditembak hingga meninggal dunia) karena melawan petugas," tegas Nana.

Nana mengungkapkan, penyidik kemudian melakukan pengembangan hasil dari pengungkapan kasus itu, dan kembali menyita 245 kilogram ganja kering, di Mandailing Natal.

"Kemudian diperoleh informasi, di Mandailing Natal inilah ada ladang ganja. Ini rupanya, mengarah kepada asal semua barang itu dari Mandailing. Sampai saat ini, Indonesia masih dalam darurat narkoba. Karena itu sama-sama kita katakan tidak, dan menyatakan perang terhadap narkoba,"

Akibat perbuatannya, para tersangka dikenakan Pasal 114 ayat (2) Subsider Pasal 111 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup, penjara paling singkat 6 tahun dan paling lama 20 tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp 1 miliar dan paling banyak Rp 10 miliar.



Sumber: BeritaSatu.com