Bareskrim Kejar Jaringan Pembobol E-Commerce

Bareskrim Kejar Jaringan Pembobol E-Commerce
Ilustrasi Hacker ( Foto: berita satu / IST )
Farouk Arnaz / FER Minggu, 26 Januari 2020 | 19:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri masih mengejar tiga orang WNI jaringan penyebar malware berskala internasional yang telah membobol sekitar 500 data kartu kredit dengan total kerugian hingga Rp 400 juta.

Mereka adalah kompolotan dari K (35), NA (23) dan ANF (26). Ketiga orang itu telah ditangkap pada 20 Desember 2019 ditempat terpisah. Bila K ditangkap di Yogyakarta, sementara dua tersangka lain di Jakarta.

"Modusnya mereka mencari kerentanan situs e-commerce. Pelaku membuat semacam 'pintu' dalam situs tersebut sehingga setiap pengunjung yang mengakses situs tersebut melewati 'pintu' yang mereka siapkan," kata Kasubdit II Dittipidsiber Bareskrim, Kombes Himawan Bayu Aji, saat dihubungi Beritasatu.com, Minggu (26/1/2020).

Malware yang mereka susupkan menjadi semacam 'pintu' itu bernama JS Sniffer. Jenis malware ini memantau dan diam-diam menyalin seluruh informasi pengunjung yang sedang bertransaksi di situs yang jadi target.

Khususnya informasi terkait perbankan milik pengunjung situs. Misalnya, nomor kartu kredit,nama lengkap pemilik kartu kredit, alamat pemilik kartu kredit, dan akun PayPal.

Lalu nomor telepon, alamat email, dan hingga username yang digunakan untuk login berikut dengan password-nya. Berbekal data inilah pelaku lantas membobor rekening korban.

Pengungkapan kasus ini di bawah bendera operasi yang diberi nama Night Fury. Ini merupakan salah satu program dari ASEAN Cyber Capability Desk yang dirancang oleh Interpol dan bekerja sama dengan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pencegahan serangan siber yaitu Group-IB.

Jika ditotal, korban JS Sniffer adalah 2.440 situs e-Commerce dengan jumlah lebih dari 1,5 juta pengunjung di banyak negara termasuk Indonesia.

Pelaku dijerat Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan/atau 363 KUHP dengan ancaman hukuman pidana 10 Tahun Penjara.



Sumber: BeritaSatu.com