KPK Tidak Mau Disebut Gagal Bekuk Harun Masiku

KPK Tidak Mau Disebut Gagal Bekuk Harun Masiku
Ali Fikri. (Foto: Antara)
Fana Suparman / FMB Kamis, 30 Januari 2020 | 20:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama kepolisian hingga saat ini belum juga berhasil menangkap caleg PDIP, Harun Masiku yang menjadi buronan atas kasus dugaan suap terkait proses Pergantian Antarwaktu (PAW) Anggota DPR. Meski sudah sekitar tiga pekan Harun buron, KPK enggan disebut gagal membekuk Harun yang merupakan caleg gagal PDIP.

"Bukan tidak berhasil atau tidak bisa menangkap. Tapi belum (berhasil)," kata Ali di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (30/1/2020) malam.

KPK menetapkan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan; caleg PDIP, Harun Masiku; mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina dan seorang swasta bernama Saeful sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait PAW anggota DPR. Wahyu dan Agustiani diduga menerima suap dari Harun dan Saeful dengan total sekitar Rp 900 juta. Suap itu diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia. Tiga dari empat tersangka kasus ini telah mendekam di sel tahanan. Sementara, tersangka Harun Masiku masih buron hingga kini.

Sejak KPK menangkap Wahyu Setiawan selaku Komisioner KPU dan tujuh orang lainnya dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (8/1/2020), Harun seolah 'hilang ditelan bumi'. Ditjen Imigrasi sempat menyebut calon anggota DPR dari PDIP pada Pileg 2019 melalui daerah pemilihan (dapil) Sumatera Selatan I dengan nomor urut 6 itu terbang ke Singapura pada 6 Januari 2020 atau dua hari sebelum KPK melancarkan OTT dan belum kembali. Pada 16 Januari Menkumham yang juga politikus PDIP, Yasonna H Laoly menyatakan Harun belum kembali ke Indonesia. Padahal, pemberitaan media nasional menyatakan Harun telah kembali ke Indonesia pada 7 Januari 2020 yang dilengkapi dengan rekaman CCTV di Bandara Soekarno-Hatta. Setelah ramai pemberitaan mengenai kembalinya Harun ke Indonesia, belakangan Imigrasi meralat informasi dan menyatakan Harun telah kembali ke Indonesia. Meski dipastikan telah berada di Indonesia, Harun hingga kini masih melenggang bebas.
Ali mengklaim, KPK bersama aparat kepolisian masih terus berupaya dengan berbagai cara untuk membekuk Harun. Ali optimistis penangkapan terhadap Harun hanya persoalan waktu.

"Ini soal waktu kapan kami bisa menemukan yang bersangkutan dan menangkap serta membawa ke KPK untuk dimintai pertanggungjawaban secara hukum," katanya.

Meski telah tiga pekan berlalu tanpa hasil, Ali menyatakan tak ada kendala bagi KPK dalam memburu Harun. Hanya saja, Ali mengakui berbagai cara yang dilakukan KPK dan kepolisian belum berhasil menangkap Harun.

"Tentunya KPK berbagai cara dilakukan. Selama ini dari segi teknologi dari berbagai cara. Tapi teknik-teknik dan strategi itu tidak bisa diampaikan karena ini bagian dari cara kami untuk mencari dan menangkap. Tetapi bahwa kami berbagai cara dilakukan bekerja sama dengan aparat penegak hukum lain mengandalkan informasi dari teman-teman, dari masyarakat kami tunggu. Kami juga menyampaikan daftar pencarian orang itu ke publik. Mudah-mudahan nanti ada informasi yang terbaru sehingga kami bergerak dan menangkap yang bersangkutan," katanya.

KPK sebelumnya mengakui Harun sempat berada di sekitar Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). KPK mendeteksi keberadaan Harun tersebut saat proses penyelidikan hingga OTT terjadi pada Rabu (8/1/2020). Meski demikian, KPK gagal membekuk Harun saat OTT dilancarkan. Ali menyebut, saat itu tim Satgas kehilangan jejak Harun.

"Itu bagian dari proses OTT ini kan kita mengunakan berbagai teknik. Informasi intelijen dan sebagainya artinya memang tidak berhasil untuk menangkap saat itu," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan