Tingkatkan Akurasi, Sistem Keimigrasian Bisa Manfaatkan Blockchain

Tingkatkan Akurasi, Sistem Keimigrasian Bisa Manfaatkan Blockchain
Petugas Imigrasi sedang memeriksa paspor salah salah penumpang pesawat. ( Foto: bandarasoekarnohatta.com )
/ WBP Selasa, 4 Februari 2020 | 08:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Wakil Ketua DPR bidang Koordinator Politik dan Keamanan (Korpolkam), Azis Syamsuddin, mengusulkan revolusi sistem keimigrasian di Indonesia menjadi sistem Imigrasi 4.0 yang cepat, akurat, dan akuntabel didukung teknologi tepat.

“Misalnya teknologi blockchain dalam sistem imigrasi 4.0, akan memudahkan dalam melakukan pengawasan dan pencatatan traffic setiap orang yang bepergian keluar negeri atau sedang dalam pengawasan pihak imigrasi,terutama dalam pengambilan keputusan yang memerlukan data yang dapat dipercaya” ujar Azis Syamsuddin dalam keterangannya Kamis (4/2/2020).

Azis Syamsuddin mengatakan, teknologi blockchain dalam sistem imigrasi 4.0 menjadikan adminsitrasi paspor dan visa menjadi lebih aman, cepat dan mudah. Sehingga, rekaman traffic setiap orang termonitor secara otomatis, kapan dia meninggalkan bandara, kapan memasuki bandara, kunjungan terakhir ke negara mana saja hingga tindakan mitigasi seperti kerusakan dan kehilangan paspor. Sehingga data keberadaannya tidak bisa dimanipulasi dan disimpang-siurkan. “Sistem ini telah digunakan PBB dalam pemantauan pengungsi dan pencari suaka. Sehingga mereka bisa dilayani dengan baik,” ujar Azis Syamsuddin.

Usulan Azis Syamsuddin ini setelah simpang siur data keimigrasian politisi PDIP Harun Masiku, terduga penyuap komisioner KPU Wahyu Setiawan. Seperti diketahui Harun Masiku diduga telah pergi ke luar negeri untuk menghindari pemeriksaan terkait operasi tangkap tangan (OTT) terhadap komisioner KPU Wahyu Setiawan. Namun data lain mengungkap dia berada di Tanah Air saat hendak ditangkap. Kasus ini mengemuka ke publik, dan berujung pencopotan Dirjen Imigrasi Ronny Sompie oleh Menkumham Yassona Laoly. “Kasus ini menunjukkan sistem keimigrasian kita masih belum saling connected dan trusted," kata Azis Syamsuddin.

Sistem imigrasi harus bertransformasi menggunakan teknologi artificial intelligence dan machine learning yang meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sekaligus menghasilkan laporan yang akurat kepada pemerintah. "Saat ini teknologi ini sudah banyak digunakan oleh berbagai negara, salah satunya di bidang layanan imigrasi dan pemantauan para pengungsi (migrant dan displacement),” tambah Azis Syamsuddin, yang juga Wakil Ketua Umum Partai Golkar.

Azis Syamsuddin mengatakan, Indonesia harus memanfaatkan teknologi 4.0 bagi peningkatan layanan kepada masyarakat. Dia memberikan contoh Tiongkok saat ini menggunakan teknologi 4.0 untuk menghadapi epidemi virus korona di Wuhan. Teknologi yang sama juga digunakan dalam bidang ekonomi, militer, sipil, pendidikan dan pemerintahan.

Menurut Azis, sistem imigrasi di Indonesia saat ini sangat kompleks, sebagai contoh dengan adanya dua jenis paspor yaitu elektronik dan non-elektronik. Kebijakan ini sangat rentan kesalahan data yang berakibat pada buruknya pelayanan imigrasi di daerah-daerah.



Sumber: BeritaSatu.com