Perjuangan Penyintas Teror Bom di Kedubes Australia

Perjuangan Penyintas Teror Bom di Kedubes Australia
Ilustrasi Teror Bom di Kedubes Australia di Kuningan, Jakarta, 2004 lampau. (Foto: merdeka / istimewa)
Fana Suparman / YS Kamis, 13 Februari 2020 | 06:10 WIB

Iwan Setiawan (45) terbata saat menceritakan peristiwa yang terjadi pada 2004 lalu itu.

Meski telah berlalu sekitar 16 tahun, Iwan yang mengenakan batik lengan pendek mengaku peristiwa yang dialaminya itu seakan baru saja terjadi. Peristiwa yang membuatnya kehilangan mata sebelah kanan dan pekerjaan impiannya.

Peristiwa yang membuatnya kehilangan sang istri tercinta dua tahun kemudian. Peristiwa yang membuatnya menjadi orangtua tunggal bagi kedua anaknya.

"Kejadiannya sudah lama tapi kalau disuruh cerita lagi seperti baru kemarin," ungkap Iwan saat menjadi pembicara dalam diskusi publik 'Penanganan Korban Aksi Terorisme Pasca-UU nomor 5 tahun 2018 di Gedung Institute for Advancement of Science Technology and Humanity (IASTH), Kampus UI Salemba, Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Di hadapan ratusan mahasiswa dan peserta diskusi, pria kelahiran Brebes, 3 Maret 1975 ini menuturkan kisahnya. Saat itu, 9 September 2004, Iwan sedang membonceng istrinya untuk memeriksakan kandungan yang telah berusia delapan bulan ke sebuah klinik di Manggarai, Jakarta Selatan.

Selain menanti anak kedua, Iwan tengah berbahagia lantaran diterima bekerja di bank swasta nasional. Prosesnya menjadi karyawan tetap hanya tinggal melewati pelatihan di kawasan Puncak, Bogor beberapa hari lagi.

Namun, peristiwa hari itu membuat dunianya berubah. Iwan dan sang istri tak pernah sampai ke klinik di Manggarai.

Saat melajukan kendaraan di Jalan Rasuna Said, Kuningan, sebuah bom meledak di depan Kedutaan Besar (Kedubes) Australia.

Belakangan bom seberat sekitar 380 kg itu diketahui dibawa oleh pelaku Heri Kurniawan alias Heri Golun dengan menggunakan mobil van mini merek Daihatsu bewarna hijau. Bom meluluhlantakkan Gedung Plaza 89 yang tak jauh dari posisi Iwan saat itu. Ledakannya membuat kaca-kaca dari gedung berhamburan mengenai apapun, termasuk Iwan dan istrinya.

"Setelah ledakan dapat dibayangkan dari lantai satu sampai lantai atas hancur berantakan. Kaca-kaca dari atap gedung jatuh ke bawah diterpa angin dan hempasan bom. Mengenai apapun yang ada di bawahnya termasuk saya dan istri saya. Posisinya seperti dilempari kaca. Seperti hujan kaca," katanya.

Iwan yang terpental dari motornya berupaya untuk bangkit dan menolong sang istri yang mengalami luka pada bagian pelipis, lengan, kaki dan tulang punggung belakang.

Luka nyeri pada mata kanannya berupaya untuk diabaikan Iwan. Dengan sekuat tenaga, Iwan berusaha untuk membopong sang istri ke rumah sakit terdekat. Motornya ditinggalkan begitu saja karena panik. Namun, lantaran khawatir biaya di rumah sakit terdekat itu mahal, Iwan mengurungkan niatnya. Iwan kembali ke motornya untuk membawa sang istri ke rumah sakit yang biayanya terjangkau.

Dengan susah payah, motornya dapat kembali menyala. Iwan pun bergegas membonceng sang istri. Namun, baru sampai di Halte Universitas Perbanas, Iwan tak sanggup menahan nyeri pada matanya. Cairan yang dipikirnya hanya darah yang menetes, ternyata merupakan bola matanya. Besi dengan panjang sekitar tiga senti menancap pada mata kanannya

"Itu sangat panas. Sakit dan perih luar biasa," ungkapnya.

Iwan pun memutuskan menepikan motornya. Sejumlah pemuda yang berada di Halte Universitas Perbanas membantu dan membawanya ke rumah sakit.

"Di rumah sakit banyak darah di mana-mana. Teriakan di mana-mana," tuturnya.

Namun, perjuangan Iwan belum usai. Di rumah sakit, Iwan dan sang istri sempat ditelantarkan. Bahkan, alih-alih segera membantunya, seorang dokter di rumah sakit itu justru mempertanyakan pihak yang akan menanggung pengobatan Iwan.

"Saya bilang, 'dokter tidak perlu khawatir. Saudara saya yang PNS dan pengusaha banyak di sini. Tinggal telepon mereka pasti membantu. Akhirnya saya baru ditangani," katanya.

Di rumah sakit itu, Iwan dan sang istri dibaringkan bersebelahan. Sambil berpegangan tangan, istrinya berusaha menguatkan Iwan untuk tetap bertahan hidup.

"Ingat kata-kata istri saya, 'Ayah yang kuat demi anak-anak. Demi anak kita'. Itu yang membuat saya semangat," ungkap Iwan menahan tangis.

Setelah perjuangan pada hari itu, hingga kini Iwan menggunakan bola mata palsu. Sementara anak kedua Iwan lahir dengan selamat. Namun, dua tahun kemudian, sang istri yang sempat menjalani operasi tulang belakang belakang meninggal dunia. Meninggalkan Iwan bersama dua anaknya yang masih balita.

"Anak pertama saya yang saat kejadian berusia tiga tahun dan ketika istri saya meninggal berumur lima tahun. Dia selalu bertanya mama di mana, saya selalu bilang mama diobati oleh Allah di musala atau masjid. Namanya anak kecil, jadi hampir setiap hari, anak saya itu selalu ke musala dekat rumah berharap suatu ketika mamanya ada," kata Iwan.

Dengan berbagai peristiwa yang dialaminya, Iwan mengaku tak dendam dengan pelaku teror. Iwan mengatakan, peristiwa yang dialaminya merupakan takdir Tuhan. Iwan bersama sejumlah korban teror dan mantan pelaku teror kini menjadi duta perdamaian.

Bahkan, Iwan bersama kedua anaknya pernah menemui Hasan dan Rois yang menjadi otak teror bom di depan Kedubes Australia yang membuatnya kehilangan sang istri.

"Saya tidak dendam dengan pelaku bahkan saya memaafkan dan mengikhlaskan. Itu sudah kehendak dan takdir Allah bagi saya menjalani hidup ini," katanya.

Selain menjadi duta perdamaian, Iwan kini membuka toko servis komputer di kawasan Pondok Cina Depok. Toko bernama Bom-bom Computer yang mengingatkannya untuk melawan rasa takut terhadap bom.



Sumber: BeritaSatu.com