Eks Komisioner Nilai KPK Seharusnya Tak Sulit Membekuk Harun Masiku

Eks Komisioner Nilai KPK Seharusnya Tak Sulit Membekuk Harun Masiku
Mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan menjawab pertanyaan wartawan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (21/1/2020). Wahyu Setiawan diperiksa sebagai saksi bagi tersangka mantan Caleg PDIP Harun Masiku dalam kasus dugaan korupsi penetapan pergantian antarwaktu anggota DPR periode 2019-2024. (Foto: ANTARA FOTO / Indrianto Eko Suwarso)
Fana Suparman / WM Kamis, 13 Februari 2020 | 20:09 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Laode M Syarif mengkritisi lembaga yang pernah dipimpinnya itu terkait pencarian caleg PDIP, Harun Masiku.

Diketahui, sudah sebulan lebih KPK memburu Harun Masiku yang menjadi buronan atas kasus dugaan suap proses PAW anggota DPR namun hingga kini, perburuan KPK yang dibantu aparat kepolisian di seluruh Indonesia belum juga membuahkan hasil.

Syarif mengatakan, seharusnya tidak sulit bagi KPK dalam membekuk Harun Masiku. Apalagi, Harun sudah terdeteksi berada di Indonesia.

"Jadi seharusnya kalau dia ada di dalam Indonesia bisa didapat seharusnya," kata Syarif, di Jakarta, Kamis (13/2/2020).

Syarif menilai, dengan memakan waktu lebih dari sebulan, KPK terkesan lamban dalam memburu Harun. Padahal, katanya, KPK memiliki peralatan dan sumber daya yang memadai dalam memburu seorang tersangka korupsi.

"KPK memiliki peralatan, bukan cuma peralatan sebenarnya KPK juga memiliki sumber daya manusia, KPK juga bisa bekerja sama dengan Polisi kan di Kepolisian ada intelijen jadi bahkan lari ke luar negeri pun jaringan KPK lumayan lengkap," katanya.

Syarif menuturkan, di era pimpinan KPK Jilid IV periode 2015-2019, sebagian besar buronan berhasil ditangkap. Bahkan, KPK kerap membantu Kejaksaan dalam menangkap tersangka korupsi.

"Jadi yang high profile seperti Harun Masiku ini, kalau dia di Indonesia, berdasarkan yang dulu-dulu tidak sulit," katanya.

Diberitakan, KPK menetapkan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan; caleg PDIP, Harun Masiku; mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina dan kader PDIP Saeful Bahri sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait PAW anggota DPR. Wahyu dan Agustiani diduga menerima suap dari Harun dan Saeful dengan total sekitar Rp 900 juta.

Suap itu diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia. Tiga dari empat tersangka kasus ini telah mendekam di sel tahanan. Sementara, tersangka Harun Masiku masih buron hingga kini.

Sejak KPK menangkap Wahyu Setiawan selaku Komisioner KPU dan tujuh orang lainnya dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (8/1/2020), Harun seolah 'hilang ditelan bumi'. Ditjen Imigrasi sempat menyebut calon anggota DPR dari PDIP pada Pileg 2019 melalui daerah pemilihan (dapil) Sumatera Selatan I dengan nomor urut 6 itu terbang ke Singapura pada 6 Januari 2020 atau dua hari sebelum KPK melancarkan OTT dan belum kembali. Pada 16 Januari Menkumham yang juga politikus PDIP, Yasonna H Laoly menyatakan Harun belum kembali ke Indonesia.

Padahal, pemberitaan media nasional menyatakan Harun telah kembali ke Indonesia pada 7 Januari 2020 yang dilengkapi dengan rekaman CCTV di Bandara Soekarno-Hatta. Bahkan, seorang warga mengaku melihat Setelah ramai pemberitaan mengenai kembalinya Harun ke Indonesia, belakangan Imigrasi meralat informasi dan menyatakan Harun telah kembali ke Indonesia.

Meski dipastikan telah berada di Indonesia, KPK dan kepolisian hingga kini belum berhasil menangkap Harun Masiku yang telah ditetapkan sebagai buronan atau daftar pencarian orang (DPO).

 



Sumber: BeritaSatu.com