Buntut Rusuh, 2 Sipir Rutan Kabanjahe Terancam Hukuman 20 Tahun

Buntut Rusuh, 2 Sipir Rutan Kabanjahe Terancam Hukuman 20 Tahun
Ilustrasi narapidana (napi) maupun warga binaan. ( Foto: Beritasatu/Arnold Sianturi )
Arnold H Sianturi / DAS Selasa, 18 Februari 2020 | 15:24 WIB

Medan, Beritasatu.com -Dua oknum petugas sipir di Rumah Tahanan (Rutan) Kabanjahe, Tio Sukma Hadi (21) dan Muhammad Angga Pradana (28), terancam hukuman maksimal  20 tahun penjara karena memasok narkoba ke Rutan Klas II Kabanjahe sebelum terjadi kerusuhan oleh para narapidana.

"Kedua oknum petugas sipir yang merupakan PNS ini masih menjalani pemeriksaan oleh penyidik di Mapolres Tanah Karo. Pemeriksaan ini untuk mengungkap jaringan narkoba lainnya," ujar Kepala Sub Penerangan Masyarakat Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan, Selasa (18/2/2020).

Nainggolan mengungkapkan, kedua oknum sipir yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan tersebut, akan dijerat penyidik dengan Pasal 114 ayat 2, Pasal 112 ayat 2 Pasal 132 ayat 1 dari UU  35/2009 tentang narkotika. Ancaman hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 20 tahun.

"Kasus kedua oknum itu akan terus berjalan dan akan dilimpahkan ke kejaksaan supaya diajukan sampai ke pengadilan. Untuk kasus narkoba tidak ada ampun, siapa pun yang terlibat akan diproses. Bahkan, polisi yang terlibat juga dijerat  pidana umum dan kemudian dipecat," ungkapnya.

Seperti diketahui, petugas sipir Tio Sukma Hadi dan Muhammad Angga Pradana, ditangkap polisi atas pengembangan dari pemeriksaan terhadap empat orang napi di Rutan Kabanjahe yakni, Set Permana Bangun (45), Afrinta Purba (44), Rejeki Bangun (42), dan Rusdi Tambunan (30).

Keempat napi ini diamankan petugas rutan yang melakukan razia. Petugas mengamankan 30 gram sabu-sabu dari dalam kasur yang digunakan keempat orang tersebut. Petugas kemudian menyerahkan keempat orang itu ke Polres Tanah Karo. Dalam pengembangan kemudian ditangkap kedua oknum sipir.

"Setelah menjalani proses pemeriksaan, empat napi ini merasa sakit hati kepada pihak rutan karena kasus hukum menyangkut narkoba itu dilanjutkan. Mereka semakin tidak dapat menerima ketika petugas rutan memberikan sanksi disiplin atas pelanggaran yang sudah dilakukan," katanya.

Keempat napi itu kemudian memprovokasi kalangan napi lainnya untuk menolak segala aturan di dalam rutan. Mereka kemudian memberikan perlawanan dengan membakar bagian dalam rutan dan merusak fasilitas yang ada. Dalam kasus pengrusakan ini, polisi menetapkan 20 orang sebagai tersangka.


Dipindahkan
Sementara itu, sebanyak 60 orang napi yang dipindahkan penahanannya ke Markas Polres Tanah Karo pascakerusuhan akhinrya  balik lagi  ke rutan. Pemindahan menggunaan mobil tahanan itu juga dikawal ketat oleh polisi.

"Selain melakukan pengawalan, petugas kita juga membantu penguatan pengamanan di Rutan Kabanjahe. Sejauh ini, belum ada kendala yang dihadapi petugas dalam membantu pemindahan para napi. Kita siap memberikan dukungan," ujar Nainggolan.

Nainggolan menyebutkan, polisi akan membantu melakukan pengamanan bila ada permintaan bantuan dari Kemenkumham melalui jajarannya atas proses pemindahan napi yang dipindahkan tersebut.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemkumham) Sumut, Sutrisman memastikan, Rutan Kabanjahe yang mengalami kerusakan akibat kerusuhan napi, Rabu (12/2/2020) kemarin, sudah dapat dihuni kembali.

"Blok tahanan sudah bisa dihuni oleh napi. Kondisi rutan sudah dibersihkan. Aktivitas petugas juga berjalan normal. Tidak ada kendala yang berarti," ujar Sutrisman.

Sutrisman mengatakan, kerusakan akibat kerusuhan napi itu hanya terdapat di bagian kantor dan dapur rutan. Oleh karena itu, untuk sementara aktivitas kantor dipindahkan ke rumah dinas kepala rutan di sekitar lokasi.

"Untuk kerusakan masih dalam perbaikan. Tidak lama lagi sudah selesai dikerjakan. Kita menyesalkan kejadian itu dan jangan terjadi lagi untuk kemudian hari. Pengamanan juga harus berjalan," sebutnya.



Sumber: BeritaSatu.com