Imam Nahrawi Sebut Sesmenpora Gatot Kerap Cari Panggung

Imam Nahrawi Sebut Sesmenpora Gatot Kerap Cari Panggung
Imam Nahrawi. ( Foto: Antara )
Fana Suparman / MPA Rabu, 4 Maret 2020 | 19:52 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menilai Sesmenpora Gatot Dewa Broto kerap mencari panggung. Hal itu diungkapkan Imam Nahrawi menanggapi kesaksian Gatot di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (4/3) sore. Gatot dihadirkan sebagai saksi perkara dugaan suap dana hibah KONI dan dugaan gratifikasi dengan terdakwa Imam Nahrawi.

Imam mengakui pernah meminta Gatot mundur sebagai Sesmenpora. Menurutnya, permintaan mundur itu merupakan akumulasi dari peniliaian Imam atas kinerja Gatot. Selain kerap mencari panggung, Imam menyebut Gatot kerap tak menjalankan tugas protokoler dengan baik. Salah satunya saat acara pelepasan atlet Asian Games 2018 di Istana Negara pada 2 Oktober 2018.

"Sebetulnya (permintaan mundur dari Sesmenpora) itu adalah akumulasi dari banyak hal termasuk saat di Istana Negara, bapak (Gatot S Dewa Broto) tidak melaporkan ke saya tugas saya apa," kata Imam di Pengadilan Tipikor.

Alih-alih melaporkan kepadanya, Imam menyebut Gatot justru mengobrol dengan pejabat lainnya di Istana Negara.
"Ketika saya sampai Istana Negara bapak enjoy ngobrol dengan pejabat lain. Padahal bapak adalah Sesmenpora, yang mestinya memberi tahu tugas saya, tugas saya apa di sana, dan bapak tidak melaporkan itu," katanya.

Gatot sempat menanggapi pernyataan Imam. Gatot mengaku sudah melaporkan kepada Imam sebelum acara itu dimulai.
"Saya pernah melaporkan ke bapak pada sebelum acara, tidak mungkin tidak melaporkan," jawab Gatot.

Namun, Imam tetap pada keyakinannya. Imam menyebut Gatot melaporkannya setelah acara berlangsung. Imam pun menyebut Gatot kerap cari panggung.

"Saya mengingat betul laporan bapak itu setelah acara, dan itu pun setelah saya tegur. Karena kebiasan bapak memang, kedekatan bapak dengan pejabat dan memang sering melupakan menterinya dan bahkan mencari panggung sendiri. Dan itu juga jadi penilaian saya," terang Imam.

Selain dua hal tersebut, Imam juga mengeluhkan kinerja Gatot selama menjadi Sesmenpora. Salah satunya mengenai situatiom room dan TVPora yang tidak berjalan dengan baik.

"Ada beberapa hal yang ternyata sebatas laporan saja. Situation room, berapa tahun saya minta tapi tidak jadi-jadi, TVPORA sudah diresmikan tapi tidak jalan, padahal bapak sesmenpora, bapak yang mengerti tentang rumah tangga," ungkapnya.

Tak hanya itu, Imam pun menyinggung persoalan Jubir Kempora. Imam mengaku sudah menunjuk Jubir Kempora, namun Gatot tetap mengambil alih tugas yang seharusnya dilakukan Jubir.

"Saya mengangkat juru bicara juga tidak difungsikan tapi bapak menjadi juru bicara terus menerus dan bahkan, beberapa hal yang masih dirapatkan di istana negara, yang tidak boleh diumumkan oleh siapapun, ternyata bapak mengumumkan sendiri. Termasuk dengan pak Tono masalah gaji PNS, bapak tidak izin ke saya tapi setelah rapat baru memberi tahu ke saya. apakah begitu etika birokrat?," papar Imam.

Gatot tak banyak menanggapi pernyataan Imam. Sidang kali ini sedianya menghadirkan dua saksi lainnya, termasuk mantan Sesmenpora Alfitra Salam. Namun, Majelis Hakim memutuskan menunda persidangan hingga Rabu pekan depan.

Diberitakan, Jaksa Penuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendakwa mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi bersama-sama asisten pribadinya, Miftahul Ulum telah menerima suap sebesar Rp 11,5 miliar untuk mempercepat proses persetujuan dan pencairan bantuan dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Suap itu diduga diterima Imam dari Ending Fuad Hamidy selaku Sekretaris Jenderal KONI dan Johnny E Awuy selaku Bendahara Umum KONI. Terdapat dua proposal kegiatan KONI yang menjadi bancakan Imam dan Ulum menerima suap. Pertama, terkait proposal bantuan dana hibah Kempora dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi olahraga nasional pada multi event 18th Asian Games 2018 dan 3rd Asian Para Gemes 2018. Kedua, proposal terkait dukungan KONI pusat dalam rangka pengawasan dan pendampingan seleksi calon atlet dan pelatih atlet berprestasi tahun kegiatan 2018.

Tak hanya menerima suap, Jaksa juga mendakwa Imam bersama-sama dengan Ulum telah menerima gratifikasi terkait dengan jabatannya dengan nilai total Rp 8,6 miliar. Dibeberkan Jaksa, Imam dan Ulum menerima uang senilai Rp 300 juta dari Ending kemudian Rp 4,9 miliar sebagai uang tambahan operasional Imam Nahrawi selaku Menpora periode 2014-2019.

Selain itu, uang senilai Rp 2 miliar sebagai pembayaran jasa desain konsultan arsitek kantor Budipradono Architecs dari Lina Nurhasanah selaku Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) Program Indonesia Emas (Prima) Kempora Tahun Anggaran 2015 sampai dengan Tahun 2016 yang bersumber dari uang anggaran Satlak Prima.

Kemudian, uang senilai Rp 1 miliar dari Edward Taufan Pandjaitan alias Ucok selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Program Satlak Prima Kempora Tahun Anggaran 2016 – 2017 yang bersumber dari uang anggaran Satlak Prima.
Terakhir, uang sejumlah Rp 400 juta dari Supriyono selaku Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional (PPON) periode 2017-2018 yang berasal dari pinjaman KONI Pusat.



Sumber: BeritaSatu.com