Penusuk Wiranto Didakwa Tindak Pidana Terorisme

Penusuk Wiranto Didakwa Tindak Pidana Terorisme
Syahril Alamsyah alias Abu Rara (kanan) saat diamankan polisi setelah menusuk Menko Polhukam Wiranto di Alun Alun Menes, Pandeglang, Banten, Kamis, 10 Oktober 2019. (Foto: Istimewa)
Bayu Marhaenjati / YUD Kamis, 9 April 2020 | 19:59 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengadilan Negeri Jakarta Barat, menggelar sidang perdana kasus penusukan mantan Menko Polhukam Wiranto, dengan agenda pembacaan surat dakwaan, Kamis (9/4/2020) hari ini. Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa terdakwa Syahrial Alamsyah (51) alias Abu Rara, pelaku penusukan terhadap Wiranto dengan tindak pidana terorisme.

"Perbuatan terdakwa tersebut sebagaimana diatur dan diancam pidana menurut Pasal 15 juncto Pasal 6 juncto Pasal 16 A Undang-undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi Undang-undang," ujar JPU Herry Wiyanto, Kamis (9/4/2020).

Baca juga: Wiranto Kembali Tinggalkan RSPAD

Berdasarkan surat dakwaan, terdakwa Syahrial telah melakukan baiat bersama dengan para pendukung daulah untuk patuh dan setia kepada pimpinan ISIS Abu Bakar Al Bagdadi, di rumah singgah Manzil Ahlam, di Jalan Asparaga, Tegal Sari, Desa Tulung Rejo, Kecamatan Pare Kabupaten Kediri, Jawa Timur, medio Oktober 2018 lalu.

"Baiat menurut terdakwa merupakan kewajiban bagi umat muslim karena jika selama hidupnya tidak melakukan baiat, maka akan meninggal dalam keadaan jahiliyah. Dan, menurut terdakwa Negara Republik Indonesia merupakan negara kafir karena berhukum pada hukum buatan manusia (Pancasila dan UUD 1945)," ungkap Herry membacakan surat dakwaan.

Selanjutnya dalam rangka amaliyah jihad, terdakwa Syahrial telah melakukan idad berupa pelatihan fisik dan memanah, di Rumah Singgah Manzil Ahlam, Kediri. Lalu mempersiapkan peralatan dengan pembelian senjata tajam berupa pisau kunai dan pisau kartu secara online.

Baca juga: Wiranto Diserang di Pandeglang

Beberapa waktu kemudian, terdakwa merasa dirinya sudah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) pihak kepolisian, pasca-penangkapan Abu Zee dan kelompok JAD di Bekasi, September 2019. Syahrial pun menilai hidupnya akan sia-sia jika tidak segera melakukan amaliyah karena tak lama lagi akan tertangkap.

Herry melanjutkan, terdakwa Syahrial bersama terdakwa Fitria Diana alias Pipit (istrinya) mendengar suara helikopter melintas di atas kontrakannya, di Gang Kenari Kampung Sawah RT 004 RW 001 Desa Menes, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, Rabu (9/10/2019). Mereka mengira helikopter itu merupakan polisi yang akan menangkapnya.

Sejurus kemudian, Syahrial, Fitria dan anaknya RAL (12) keluar rumah menuju Alun-alun Menes. Ketika sampai, ternyata helikopter itu telah pergi. Terdakwa pun bertanya kepada tukang ojek dan mendapatkan informasi kalau Wiranto akan datang besok.

Baca juga: Wiranto Diserang dengan Benda Tajam

"Setelah mengetahui akan ada kunjungan Menkopolhukam Wiranto, terdakwa menyampaikan kepada Fitria tentang rencana untuk melakukan penyerangan atau perlawanan terhadap saksi Wiranto," katanya.

Esok harinya, sekitar pukul 09.00 WIB, Syahrial memberikan dua bilah pisau kepada istrinya dan anaknya. Kemudian mereka berangkat untuk menyerang Wiranto di Alun-alun Menes.

Pada saat Wiranto bersalaman dengan Kapolsek Menes Kompol Dariyanto, terdakwa melakukan penyerangan dengan menggunakan pisau kunai. Aksi itu kemudian diikuti istrinya. Sedangkan, anaknya melarikan diri ketika mengetahui orang tuanya ditangkap.

Akibat serangan itu, Wiranto mengalami luka terbuka di perut sebelah kiri dan luka di lengan kiri akibat senjata tajam. Sementara, Kompol Dariyanto menderita luka terbuka di bahu kiri dan siku tangan kiri, kemudian korban H. A Fuad Syauqi mengalami luka tusuk di dada kanan dan kiri.

"Terdakwa telah melakukan permufakatan jahat, persiapan, percobaan atau pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorisme, dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas, menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang strategis, lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional dengan melibatkan anak," tandasnya.

Sementara itu, terdakwa Fitria juga didakwa dengan pasal yang sama terkait tindak pidana terorisme.

Pasal 15 Undang-undang Nomor 5 Tahun 2018 berbunyi: "Setiap orang yang melakukan permufakatan jahat, persiapan, percobaan, atau pembantuan untuk melakukan Tindak Pidana Terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10 Pasal 10A, Pasal 12, Pasal 12A, Pasal 12B, Pasal 13 huruf b dan huruf c, dan Pasal 13A dipidana dengan pidana yang sama sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 10A, Pasal 12, Pasal 12A, Pasal 12B, Pasal 13 huruf b dan huruf c, dan Pasal 13A."

Pasal 6 berbunyi: "Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas, menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang strategis, lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun, pidana penjara seumur hidup, atau pidana mati."



Sumber: BeritaSatu.com