Pemerintah Harus Sampaikan Data Covid-19 Apa Adanya

Pemerintah Harus Sampaikan Data Covid-19 Apa Adanya
Kadiv Humas Mabes Polri M Iqbal dalam FGD Webiner Series atau Seminar Online di Jakarta, Kamis (23/4/2020). (Foto: Istimewa)
Robertus Wardi / AMA Kamis, 23 April 2020 | 16:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Staf Ahli Utama Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin meminta aparat pemerintah atau pihak berwewenang agar berani tampil ke publik dan media. Mereka harus berani berbicara data apa adanya atau fakta terkait wabah virus corona yang menyebabkan Covid-19.

“Keenganan untuk berkomunikasi dengan pemangku kepentingan akan menimbulkan kesan bahwa negara tertutup, berusaha menyembunyikan sesuatu atau tidak mempu menangani krisis,” kata Ngabalin dalam Focus Group Discussion (FGD) Webiner Series atau Seminar Online di Jakarta, Kamis (23/4/2020).

FGD menggunakan aplikasi zoom dengan melibatkan mahasiswa, dosen, pengemudi ojo,l dan pelaku usaha mikro.

Seminar mengangkat tema “Strategi Pelibatan Masyarakat sebagai Solusi dalam Menangkal Ancaman Kamtibmas di Masa Pandemi Covid-19". Tampil pula sebagai narasumber Kakorbinmas Baharkam Polri Irjen Pol Risyapudin Nursin, Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono, dan Dosen Pascasarjana Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing.

Ngabalin mengemukakan, masyarakat harus diberikan ruang yang cukup dan mudah dalam mengakses informasi terkait Covid-19. Masyarakat harus punya keyakinan bahwa publikasi yang disampaikan pemerintah melalui Satgas Covid-19 beserta data pendukungnya adalah kebenaran informasi dalam penanganan Covid-19. "Harus tampil dan sampaikan apa adanya. Supaya tidak membingungkan masyarakat," tegas Ngabalin.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono menyoroti maraknya penyebaran berita Covid-19 yang justru membuat masyarakat merasa sedih dan panik. Kondisi ini bisa berdampak pada merosotnya imunitas masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19.

"Jangan sampai masyarakat itu ketakutan melihat informasi-informasi, infonya itu yang sedih, jangan. Bagaimana kematian, itu yang ditampilkan, bukan seperti itu,” kata Argo.

Dia berharap agar media, baik media mainstream atau arus utama maupun media sosial, lebih banyak menampilkan berita yang gembira. Alasannya dengan gembira, imun akan naik.

"Ada bermacam-macam yang diviralkan yang mengarah pada kepanikan masyarakat, jadi masyarakat biar panik. Jadi semua ditampilkan padahal belum tentu benar,” kata Argo.

Argo memberi contah hoaks yang menyebar terkait pandemi Covid-19. Di antaranya, kecelakaan di Jakarta Pusat, tapi itu kemudian di-framing bahwa itu adalah begal yang ada di Surabaya. “Akhirnya masyarakat resah. Banyak itu. Tidak cuma satu. Kemudian ini semua di-framing terus," tutup Argo.