Anggota JI Aktif Lagi, Nasir Abbas: JI Tak Pernah Berhenti

Anggota JI Aktif Lagi, Nasir Abbas: JI Tak Pernah Berhenti
Ilustrasi terduga teroris. (Foto: Antara)
Farouk Arnaz / JEM Kamis, 30 April 2020 | 15:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penangkapan sejumlah terduga teroris di Surabaya, Sidoarjo, dan Serang mengungkap jika mereka punya irisan dengan jaringan lawas Jamaah Islamiah (JI) yang kini bergerak dlluar struktur.

Menurut Nasir Abbas yang merupakan mantan anggota JI, kelompoknya dulu itu memang tak pernah berhenti apalagi mati. Nasir yang juga mantan instruktur JI di kamp di Filipina Selatan itu yakin JI terus bergerak.

“Sebenarnya saya tidak memonitor (penangkapan itu) tapi JI memang tidak akan pernah berhenti untuk persiapan dan berjuang untuk menegakkan Daulah Islam,” kata Nasir saat dihubungi Beritasatu.com Kamis (30/4/2020).

Nasir, yang merupakan mantan pimpinan mantiqi (regional) III JI yang meliputi Mindanao, Kalimantan Timur hingga Sulawesi ini, juga pernah membuat analisis tentang kelompoknya itu yang dia beri judul JI Yesterday, Today and Tomorrow.

“Saya kupas dari PUPJI (pedoman umum perjuangan JI). (Intinya) JI memang tidak pernah berhenti.
Tapi kelompok Imam Samudra di Banten itu NII bukan JI dan bahkan di antara mereka ikut JAD,” sambungnya.

Seperti diberitakan kelompok kawakan JI termonitor aktif kembali meski tidak lagi menggunakan bendera JI. Anggota JI yang keluar dari struktur itu disebut tetap menggunakan strategi JI.

JI yang diperkuat eks jihadis lulusan Akademi Para Militer di Afghanistan adalah kelompok yang bertanggung jawab dalam aksi bom Bali 2002 dan bom kembar Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton di Jakarta pada 2019.

Sejak itu gerakan kelompok ini relatif senyap namun ternyata kelompok ini tidak pernah mati dan selalu beradaptasi dengan zaman dengan tujuan akhir membangun khilafah.

Sebelumnya Mabes Polri telah mengatakan mereka melakukan pendalaman kepada seluruh terduga teroris yang ditangkap belakangan. Polisi masih mengalisis pergerakan mereka untuk menentukan jaringannya.

Tiga orang terduga teroris itu dibekuk di sebuah kios ikan di Kampung Jalumprit, RT 04 RW 01, Desa Waringin Kurung, Kecamatan Waringin Kurung, Kabupaten Serang, Banten Senin (27/4/2020).

Mereka merupakan perkembangan penangkapan beberapa terduga teroris di Surabaya dan Sidoarjo termasuk AH dan MH.

AH dibekuk di sebuah ekspedisi di Jalan Kunti, Sidotopo, Surabaya, saat hendak mengirim senjata. AH terpapar dan tertular paham terorisme ketika dia menjalani hukuman di Lapas Madura.

Dia diketahui menbeli senjata organik itu seharga Rp 200 juta dari seorang oknum di Malang. Senjata dan amunisi mematikan itu hendak dikirim ke sebuah kota di Pulau Jawa.

Senjata itu diniatkan untuk i’dad atau melakukan persiapan sebelum kelak melangkah ke aksi teror. Dana ratusan juta yang dikuasai AH inilah yang dicurigai dari kelompok teror lama yang kini aktif kembali itu.



Sumber: BeritaSatu.com