Boyamin: Jika Tak Meninggal, Harun Masiku Seharusnya Muncul ke Publik

Boyamin: Jika Tak Meninggal, Harun Masiku Seharusnya Muncul ke Publik
Boyamin Saiman (batik biru) ( Foto: Beritasatu Photo / Bayu Marhaenjati )
Fana Suparman / JAS Selasa, 5 Mei 2020 | 19:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Koordinator Masyarakat Anti Korupsi (MAKI) Boyamin Saiman meyakini Harun Masiku yang menjadi buronan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus dugaan suap pengurusan PAW Anggota DPR telah meninggal dunia.

Keyakinan ini didasari lantaran tidak ada informasi apapun mengenai keberadaan mantan caleg PDIP tersebut. Padahal, Boyamin mengaku kerap mendapat infornasi mengenai buronan KPK lainnya.

"Aku yakin Harun Masiku meninggal, buktinya apa? Nggak ada, dan buktinya nggak punya, hanya keyakinan saja, karena perbandingan dengan buronan lain, selalu ada update setiap Minggu. Kalau Harun Masiku nggak ada," kata Boyamin saat dikonfirmasi, Senin (4/5/2020).

Boyamin menekankan tidak memiliki bukti mengenai informasi telah meninggalnya Harun Masiku. Boyamin memastikan akan menyampaikan kepada publik jika mendapat informasi mengenai hal tersebut.

"Nggak ada (bukti Harun Masiku meninggal), dari mana? Nggak punya foto Harun meninggal. Kalau punya foto, sudah aku share tanpa diminta," tegasnya.

Meski demikian, Boyamin enggan disebut telah menyumpahi tersangka pemberi suap kepada mantan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan itu telah meninggal. Dikatakan, keyakinan berbeda dengan menyumpahi.

Menurutnya, untuk membuktikan kebenaran informasi tersebut, Harun Masiku seharusnya muncul di hadapan publik. Dengan demikian tidak meninggalkan fitnah dan prasangka yang tidak benar.

"Kan yakin (Harun meninggal), ya enggak (nyumpahin) lah. Kalau nanti kemudian dia (Harun) muncul gara-gara pernyataan aku, itu malah bagus," tuturnya.

Boyamin meminta Harun Masiku untuk muncul di hadapan publik. Dengan demikian tuduhan MAKI bahwa Harun telah meninggal tidak benar alias hoax.

"Maka maksudnya supaya ini (keyakinan meninggal) tidak menimbulkan prasangka yang tidak benar. Dan bisa menimbulkan fitnah kepada banyak orang. Saya mengimbau dan meminta Harun Masiku untuk muncul. Mudah-mudahan Harun Masiku masih sehat walaafiat dan berkumpul dengan anak-istrinya," katanya.

Diberitakan, KPK menetapkan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan; caleg PDIP, Harun Masiku; mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina dan kader PDIP Saeful Bahri sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait PAW anggota DPR. Wahyu dan Agustiani diduga menerima suap dari Harun dan Saeful dengan total sekitar Rp 900 juta.

Suap itu diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia. Tiga dari empat tersangka kasus ini telah mendekam di sel tahanan. Sementara, tersangka Harun Masiku masih buron hingga kini.

Sejak KPK menangkap Wahyu Setiawan selaku Komisioner KPU dan tujuh orang lainnya dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (8/1/2020), Harun seolah hilang ditelan bumi. Ditjen Imigrasi sempat menyebut calon anggota DPR dari PDIP pada Pileg 2019 melalui daerah pemilihan (dapil) Sumatera Selatan I dengan nomor urut 6 itu terbang ke Singapura pada 6 Januari 2020 atau dua hari sebelum KPK melancarkan OTT dan belum kembali.

Pada 16 Januari Menkumham yang juga politikus PDIP, Yasonna H Laoly menyatakan Harun belum kembali ke Indonesia. Padahal, pemberitaan media nasional menyatakan Harun telah kembali ke Indonesia pada 7 Januari 2020 yang dilengkapi dengan rekaman CCTV di Bandara Soekarno-Hatta.

Setelah ramai pemberitaan mengenai kembalinya Harun ke Indonesia, belakangan Imigrasi meralat informasi dan menyatakan Harun telah kembali ke Indonesia. Meski dipastikan telah berada di Indonesia, KPK dan kepolisian hingga kini belum berhasil menangkap Harun Masiku yang telah ditetapkan sebagai buronan atau daftar pencarian orang (DPO). 



Sumber: BeritaSatu.com